30 Definisi Manajemen Menurut Para Ahli

30 Definisi Manajemen Menurut Para Ahli

1. Henry Fayol:

“Manajemen mengandung gagasan lima fungsi utama yaitu, merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Sedangkan fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.”

2. James A.F. Stoner (2006:Organisasi.org)
“Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya”.

3. Mulayu S.P. Hasibuan (2000:2)
“Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai satu tujuan.”

4. T.Hani Handoko (2000:10)

“Manajemen adalah bekerja dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan, dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personalia, pengarahan, kepemimpinan dan pengawasan.”

5. Marry Parker Follet

“Manajemen adalah  seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain”

6. Prof. Oie Liang Lee

“Manajemen adalah ilmu dan seni mengkoordinasikan serta mengawasi tenaga manusia dengan bantuan alat-alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.

7. The Liang Gie, 1982

” Manajemen adalah unsur yang merupakan rangkaian perbuatan menggerakkan karyawan-karyawan dan mengarahkan segenap fasilitas kerja agar tujuan organisasi yang bersangkutan benar-benar tercapai.”

8. George R. Terry, 1994

Manajemen dalam bukunya Principles of Management yaitu “Suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni demmi mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”.

9. Dr. Sp. Siagian dalam buku  “FILSAFAT ADMINISTRASI”

 “Manajemen adalah kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain”

10. Ordway Tead yang disadur oleh Drs. He. Rosyidi dalam buku “ORGANISASI DAN MANAGEMENT“

“Manajemen adalah “Proses dan kegiatan pelaksanaan usaha memimpin dan menunjukan arah penyelenggaraan tugas suatu organisasi di dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.”

11. Renville Siagian

“Manajemen adalah suatu bidang usaha yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan dan dikelola oleh para tenaga ahli terlatih serta berpengalaman.”

12. Richard L.Daft (2002:8) 

“Manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara yang efektif dan efisien melalui perencanaan pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian sumberdaya organisasi.”

13. Oxford

“Manajemen ialah the process of dealing with or controlling people or things (proses berurusan dengan atau mengendalikan orang atau benda).”

14. Horold Koontz

“Manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.”

15. Lawrence A. Appley

“Manajemen adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain.

16. Hilman

“Manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.”

17. Menurut Ricky W. Griffin:

“Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.”

18. William H. Newman:

“Manajemen adalah fungsi yang berhubungan dengan memperoleh hasil tertentu melalui orang lain.”

19. Drs. Oey

“Manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengontrolan.”

20. Prof. Eiji Ogawa

“Manajemen adalah Perencanaan, Pengimplementasian dan Pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk system pembuatan barang yang dilakukan oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah menetapkan sasaran-sasaran untuk kerja yang dapat disempurnakan sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah.”

21. Federick Winslow Taylor

“Manajemen adalah Suatu percobaan yang sungguh-sungguh untuk menghadapi setiap persoalan yang timbul dalam pimpinan perusahaan (dan organisasi lain)atau setiap system kerjasama manusia dengan sikap dan jiwa seorang sarjana dan dengan menggunakan alat-alat perumusan.”

22. Lyndak F. Urwick

“Manajemen adalah Forecasting (meramalkan), Planning Orga-nizing (perencanaan Pengorganisiran), Commandin (memerintahklan), Coordinating (pengkoordinasian) dan Controlling (pengontrolan).”

23.Cyril O’donnel

“Dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” mengemukakan, manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain.”

24. Ensiclopedia of The Social Sciences

“Manajemen diartikan sebagai proses pelaksanaan suatu tujuan tertentu yang diselenggarakan dan diarvasi.”

25. Gordon (1976) dalam Bafadal (2004:39)

“Menyatakan bahwa manajemen merupakan metode yang digunakan administrator untuk melakukan tugas-tugas tertentu atau mencapai tujuan tertentu.”

26. Millet (1954)

“Manajemen adalah proses memimpin dan melancarkan pekerjaan dari orang-orang yang terorgasisir secara formal sebagai kelompok untuk memperoleh tujuan yang diinginkan.”

27. Davis (1951)

“Manajemen adalah fungsi dari setiap kepemimpinan eksecutif dimanapun.”

28. Kimball and Kimball (1951)

“Manajemen terdiri dari semua tugas dan fungsi yang meliputi penyusunan sebuah perusahaan, pembiayaan, penetapan garis-garis besar kebijaksanaa,penyediaan semua peralatan yang diperlukan dan penyusunan kerangka organisasi serta pemilihan para pejabat terasnya.”

29. Peter Drucker

“Dalam buku “The Principles of Management” yang ditulis oleh pencetus teori bisnis Amerika yang meraih penghargaan Presidential Medal of Freedom di tahun 2002 ini, manajemen adalah organ yang memiliki banyak tujuan untuk mengelola bisnis serta mengelola manajer dan juga mengelola pekerja dan bekerja.”

30. Chaster I Bernard 

“Manajemen adalah seni dan ilmu,”

SPLDV

 

Sonic-Generations-artwork

 

 

A.   Persamaan Linear Satu Variabel, Persamaan Linear Dua Variabel Dan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

 

  • Persamaan Linear Satu Variabel

1)    2x + 5 = 3

2)    1 – 2y = 6

3)    z + 1 = 2z

Variabel pada persamaan (1) adalah x, pada persamaan (2) adalah y, dan pada persamaan (3) adalah z. Persamaan-persamaan di atas adalah contoh bentuk persamaan linear satu variable. karena masing-masing persamaan memiliki satu variabel dan berpangkat satu. Variabel x, y, dan z adalah variabel pada himpunan tertentu yang ditentukan dari masing-masing persamaan tersebut.

 

Persamaan yang memiliki satu variabel dan peubahnya berpangkat satu disebut persamaan linear dengan satu variabel.

 

Persamaan linear satu variabel dapat dinyatakan dalam bentuk ax = b atau ax + b = c dengan a, b, dan c adalah konstanta, a 0, dan x variabel pada suatu himpunan.

 

  • Persamaan Linear Dua Variabel

 

1)    x + 5 = y

2)    2a b = 1

3)    3p + 9q = 4

Persamaan-persamaan di atas adalah contoh bentuk persamaan linear dua variabel. Variabel pada persamaan x + 5 = y adalah x dan y, variabel pada persamaan 2a b = 1 adalah a dan b. Adapun  variabel pada persamaan 3p + 9q = 4 adalah p dan q. Persamaan yang memiliki dua variabel dan peubahnya berpangkat satu disebut persamaan linear dua variabel.

Persamaan linear dua variabel dapat dinyatakan dalam bentuk ax + by = c dengan a, b, c ∈ R  a, b ≠ 0,  c adalah konstanta dan x, y suatu variabel.

 

  • Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

x + y = 5…………………………………………………. (1)

2x – y = 11 ………………………… …………………..(2)

Persamaan (1) dan (2) merupakan persamaan linear dengan dua variabel yang saling terkait. Beberapa persamaan yang saling terkait disebut sistem persamaan linear. Karena kedua persamaan di atas saling terkait, memiliki dua variabel dan penyelesaian yang sama (x=3 dan y=2) maka disebut sistem persamaan linear dua variabel.

Sistem persamaan linear dua variabel dapat dinyatakan dalam bentuk berikut

a1x  + b1y = c1               

a2x + b2y  = c2

dengan a, b 0, x dan y suatu variabel, a1 dan a2 adalah koefisien dari variabel x, b1 dan b2 adalah koefisien dari variabel y, dan c1,c2 adalah konstanta.

 

B.   Penyelesaian atau Akar dan Bukan Akar Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Dalam sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) terdapat pengganti-pengganti dari variabel sehingga kedua persamaan menjadi kalimat benar. Pengganti –pengganti variabel yang demnikian disebut penyelesaian atau akar dari sistem persamaan atau bukan akar dari sistem persamaan tersebut.

Contoh 1:

Diketahui sistem persamaan x + 2y = 10 dan 2x – y = 5.

Tunjukkan bahwa x = 4 dan y = 3 merupakan akar atau penyelesaiannya!

Jawab:

Nilai x = 4 dan y = 3 disubstitusikkan pada persamaan x + 2y =10 dan 2x–y =5, diperoleh :

         x + 2y  = 10                                        2x – y = 5

        4 + 2(3)        = 10                                      2(4) – 3 = 5

           4 + 6 = 10                                         8 – 3 = 5

               10  = 10  (benar)                                  5 = 5 (benar)

Karena selalu diperoleh kalimat benar, maka  x = 4 dan y = 3 merupakan akar atau penyelesaian dari persamaan x + 2y =10 dan 2x – y = 5.

 

Contoh 2:

Apakah x = 6 dan y = 2  merupakan penyelesaian dari sistem persamaan x + 2y = 10  dan 2x – y = 5

Nilai x = 6 dan y = 2  disubstitusikan pada persamaan x + 2y = 10  dan 2x – y = 5, diperoleh:

         x + 2y  = 10                                       2x – y = 5

        6 + 2(2)        = 10                                      2(6) – 2 = 5

           6 + 4 = 10                                       12 – 2 = 5

               10  = 10  (benar)                                10 = 5 (salah)

Pada persamaan x + 2y = 10 dan 2x – y = 5, x = 6 dan  y = 2 disubstitusikan pada kedua persamaan tersebut, ternyata mengakibatkian salah satu persamaan menjadi kalimat yang salah. Oleh karena itu, x=6 dan  y=2 bukanlah penyelesaian atau akar dari persamaan x + 2y = 10  dan 2x – y = 5.

 

C.   Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel dapat ditentukandengan mencari pasangan bilangan yang memenuhi setiap persamaan linearnya dan bila pasangan bilangan itu disubstitusikan ke persamaannya akan menghasilkan pernyataan yang benar.

Penyelesaian pada sistem persamaan linear ax + by = c dan px + qy = r adalah menentukan pengganti untuk x dan y yang memenuhi kedua persamaan tersebut sehingga diperoleh suatu bentuk pasangan koordinat x dan y atau (x,y).

Himpunan peneyelesaian dari sistem persamaan linear dapat dicari dengan beberapa metode yaitu, metode grafik, metode substitusi, metode eliminasi dan metode gabungan.

 

1. Metode Grafik

Salah satu metode penyelesaian sistem persamaan adalah dengan metode grafik yaitu membaca (menaksir) titik potong kedua persamaan garis pada bidang kartesius. Pada metode grafik, himpunan penyelesaian dari sistem persamaan linear dua variabel adalah koordinat titik potong dua garis tersebut. Jika garis-garisnya tidak berpotongan di satu titik tertentu maka himpunan penyelesaiannya adalah himpunan kosong.

 

Contoh 3:

Selesaikan sistem persamaan x + 3y = 5 dan 2x – y = 3 dengan metode grafik.

Jawab:

Kita tentukan titik potong masing-masing garis tersebut dengan sumbu x dan sumbu y.

Menggunakan tabel:

x + 3y = 5

 

2x – y = 3

X

0

5

 

x

0

 

Y

 

0

 

y

– 3

0

(x,y)

( 0,1  )

(5,0)

 

( x,y )

(0,-3)

(1  , 0 )

 

 1

 

 

Dari gambar di atas terlihat bahwa titik (2,1) merupakan ntitik potong kedua  garis tersebut. Untuk meyakinkan bahwa pasangan bilangan berurutan tersebut merupakan akar penyelesaian sistem persamaan , kita ndapat mengecek dengan cara mensubstitusikan  titik (2,1) pada kedua persamaan.

  1. x + y = 5               b.          2x – y= 3

2 + 3(1)=5                2(2) – 1 = 3

2 + 3 = 5                  4 – 1 = 3

 

 

Jadi jelas bahwa penyelesaian sistem persamaan tersebut adalah {(2,1)}

 

Contoh 4:

Tentukan penyelesaiansistem persamaan 2x –y = 4 dan x = 3 untuk x,y  R.

Jawab:

Untuk persamaan 2x y =4

Titik potong pada sumbu x, maka sumbu y = 0, sehingga:

         2x – 0 = 4

⇔         2x  = 4

           x = 2

koordinat titik potong pada sumbu y, maka x = 0:

      2(0) y  = 4

⇔         – y  = 4

           y = – 4

Koordinat titik potong pada sumbu y adalah (0, -4). atau dengan menggunakan table:

X

2

0

Y

0

-4

(x,y)

(2, 0)

(0, -4)

 

Untuk persamaan x = 3, dapat langsung dibuat grafiknya, yaitu garis yang sejajar dengan sumbu y dan titik (3,0).

 

Grafik sistem persamaan tersebut ditunjukan pada gambar di bawah ini

1

Karena koordinat titik potongnya adalah (3,2) maka penyelesaiannya adalah x = 3 dan y = 2.

 

Pada kedua contoh di atas dan pembahasan sebelumnya diperoleh bahwa penyelesaian dari SPLDV yang diberikan hanya memiliki tepat satu pasangan. Mengingat kedudukan dua garis dalam satu bidang mempunyai 3 kemungkinan, yaitu sejajar, berpotongan dan berimpit, maka:

  • Grafik penyelesaian suatu SPLDV berupa dua garis yang sejajar tidak mempunyai penyelesaian.
  • Grafik penyelesaian suatu SPLDV berupa dua garis yang saling berpotongan di satu titik mempunyai satu penyelesaian.
  • Grafik penyelesaian suatu SPLDV berupa dua garis yang berimpit mempunyai tak hingga penyelesaian.

2. Metode Substitusi

Jika penyelesaian sistem persamaan bilangan berurutan yang relative besar atau tidak memuat bilangan bulat, maka metode grafik tidak dapat digunakan dengan baik. Salah satu metode yang dapat digunakan  adalah metode substitusi.

Substitusi berarti mengganti. Jadi, untuk menentukan penyelesaian atau himpunan penyelesaian dari sistem persamaan linear dengan metode substitusi, kita perlu mengganti salah satu variabel dengan variabel lain.

 

Contoh 5:

Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem npersamaan

                             x + 2y = 8

                           3x – 5y = 90

Jawab:

Persamaan x + 2y = 8 dapat dinyatakan dalam bentuk x = 8 – 2y, kemudian pada persamaan 3x – 5y = 90, gantilah x dengan 8 – 2y sehingga diperoleh:

                 3x – 5y         =  90

⇔    3(8 – 2y) – 5y        =  90

⇔    24 – 6y – 5y   =  90

⇔           24 – 11y         =  90

⇔                 -11y =  90 – 24

⇔                 -11y  =  66

⇔                     y    =  – 6

untuk menentukan nilai x, gantilah y dengan – 6 pada persamaan x + 2y = 8 atau 3x – 5y = 90,  sehingga diperoleh

           x + 2y =  8                  atau                3x – 5y =  90

        x + 2(-6)                      =  8                                 3x – 5(-6)       = 90

           x – 12  =  8                                         3x + 30 =  90

                 x    =  8 + 12                                        3x =  90 – 30

       x    =  20                                                x =  60/3

                                                                               x =  20

Jadi, himpunan penyelesaian sistem persamaan diatas adalah {(20, -6)}

 

 

Contoh 6 :

Tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan 7x – 4y =2 dan 3x + 2y=12.

Jawab:

Persamaan 3x + 2y = 12 dapat dinyatakan dalam bentuk y = 6 – . Kemudian, substitusikan y ke persamaan 7x – 4y = 2 diperoleh :

                 7x – 4y         =  2

⇔    7x – 4(6 – =  2

⇔    7x – 24 – 6x   =  2

⇔           7x + 6x   =  2 + 24

⇔                 13x   =  26

⇔                     x   =  26/13

⇔                     x    =  2

Selanjutnya, substitusikan x = 2 ke salah satu persamaan, maka di peroleh:

                 7x – 4y         =  2

               7(2) – 4y =  2

                   14 – 2 =  4y

                         12 =  4y

                       12/4 =  y

                          3 =  y  atau   y = 3

Jadi, himpunan penyelesaian dari sistem persamaan diatas adalah {(2,3)}

 

 3. Metode Eliminasi

Metode eliminasi berarti penghilangan/pelenyapan salah satu variabel atau peubah dari sistem persamaan linear dua variabel. Pada metode ini, angka dari koefisien variabel yang akan dihilangkan harus sama atau dibuat agar sama. Jika variabelnya x dan y, maka untuk menentukan variabel x kita harus mengeliminasi variabel y terlebih dahulu, atau sebaliknya.

Jika kokefisien dari salah satu variabel sudah sama maka kita dapat mengeliminasi atau menghilangkan salah satu variabel tersebut, untuk selanjutnya menentukan variabel yang lain.

Contoh 7:

Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan 3x – 4y = -11 dan

4x + 5y =6

Jawab:

Langkah I (eliminasi variabel y untuk memperoleh nilai x)

3x – 4y = –11  (x5)          ⇒     15x – 20y = – 55

4x + 5y = 6      (x4)          ⇒     16x + 20y =    24  +

                                        31x          =  –31

                                           x          =  –1

Langkah II (eliminasi variabel x untuk memperoleh nilai y)

3x – 4y = –11  (x4)          ⇒     12x – 16y = – 44

4x + 5y = 6      (x3)          ⇒     12x + 15y =    18 _

                                             –31=  –62

                                                   =  2

Jadi, himpunan penyelesaian dari sistem persamaan di atas adalah {(–1, 2)}

 

4. Metode Gabungan

Metode ini biasanya lebih banyak dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan bsistempersamaan linear. Dengan mengeliminasi salah satu variabel, kemudian nilai salah satu variabel yang diperoleh disubstitusikan ke dalam salah satu persamaan itu sehingga dapat diperoleh nilai variabel yang lain.

Contoh 8:

Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan 2x – 5y=2 dan x+5y= 6, jika x,y  R.

Langkah I (metode eliminasi)

2x – 5y = 2  (x -1) ⇒   -2x + 5y      = -2                karena variabel y sudah sama

  x + 5y = 6  (x 1)   ⇒      x + 5y      =  6   _           maka dapat langsung dikerjakan

                                      -3x       =  – 8                  2x – 5y = 2

                                        x        =  8/3                    x + 5y = 6   +

                                        x        =  2                             3x      =  8

                                                                              x       =  

Langkah II (metode substitusi)

Substitusikan nilai x ke salah satu persamaan 2x – 5y = 2 atau x + 5y = 6.

                 2x – 5y  = 2

             2(8/3) –5y = 2

               16/3 – 5y = 2

                       –5y  = 2 – 

                       ­–5y  = –

                          y = –  (–  )

                          y

jadi, himpunan penyelesaian dari persamaan 2x – 5y = 2 dan x + 5y = 6 adalah {(2 , )}

 

D.   Sistem Persamaan Linear Dua Variable Dengan Pecahan

Dalam sistem persamaan, jika pada salah satu atau kedua persamaan terdapat pecahan, maka persamaan yang mengandung pecahan itu harus dijadikan persamaan lain yang ekuivalen tetapi tidak lagi mengandung pecahan. Pengubahan itu dapat dilakukan dengan cara mengalikan setiap persamaan itu dengan KPK dari bilangan penyebut masing-masing pecahan. Setelah persamaan-persamaannya tidak lagi memuat pecahan, maka untuk menyelesaikanya dapat dikerjakan dengan menggunakan salah satu metode yang telah dipelajari

Contoh 9:

Tentukan penyelesaian sistem persamaan 3x + 2y = 17 dan x y = –1!

Jawab:

Langkah I

Persamaan   x y = –1 diubah sehingga tidak jlagi mengandung pecahan

           x y   = –1       (dikalikan dengan 6 yaitu KPK dari 3dan 2)

⇔    6( x y)  = (–1)6

⇔       2x – 3y = – 6

Langkah II (kerjakan dengan salah satu metode yang telah dipelajari)

 

Misalnya menggunakan metode gabungan:

3x + 2y = 17    (x2)          ⇒     6x  + 4y =   34

2x – 3y = – 6   (x3) ⇒      6x   9y = – 18 _

                                             13=  52

                                                 =  52/13 = 4              jadi y = 4

           3x + 2= 17

         3x + 2(4)     = 17

             3x + 8  = 17

                   3x  = 17 – 8

                   3x = 9

                     x  = 3

jadi, penyelesaiannya adalah x = 3 dan y  = 4.

 

 

E.   Penerapan/Penggunaan Sistem Persamaan Linear Dua Variable dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak permasalahan yang dapat diselesaikan dengan menerapkan penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel. Masalah-masalah ini biasanya berbertuk soal cerita. Pada bagian ini akan membahas bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah seperti ini.

Contoh 10:

Harga dua baju dan tiga kaos adalah Rp 85.000, sedangkan harga tiga baju dan satu kaos jenis yang sama adalah Rp 75.000. Tentukan harga sebuah baju dan harga sebuah kaos!

Jawab:

Terlebih dahulu kita terjemahkan permasalahannya ke dalam kalimat matematika sehingga diperoleh formulasi untuk mendapatkan pemecahan (solusi) atas permasalahan yang terjadi.

Pada soal cerita ini ada dua besaran yang belum diketahui, yaitu harga sebuah baju dan harga sebuah kaos. Dimisalkan:

          Harga sebuah baju = x rupiah, dan

          Harga sebuah kaos = y rupiah, maka

          Harga 2 baju dan 3 kaos: 2x + 3y = 85.000

          Harga 3 baju dan 1 kaos: 3x y  = 75.000.

Sehingga, didapat sistem persamaannya adalah 2x + 3y = 85.000 dan

3x + y = 75.000.

kemudian kerjakan dengan menggunakan salah satu metode penyelesaian., maka:

2x + 3y = 85.000 (x1)      ⇒     2x + 3y = 85.000

3x +  y = 75.000 (x3)      ⇒     9x + 3y = 225.000  ­­_

                                                 – 7x     =  –140.000

                                                       x    =  20.000

           2x + 3= 85.000

2(20.000) + 3 y = 85.000

    40.000 + 3 y = 85.000

                   3y  = 85.000 – 40.000

                   3x = 45.000

                     x  = 15.000

jadi harga sebuah baju = x rupiah = Rp 20.000 dan

harga sebuah kaos = y rupiah = Rp 15.000

 

Contoh 11:

Perbandingan umur ayah dan ibu adalah 4:3. Enam tahun yang lalu, perbandingan umur mereka adalah 7:5. Berapakah perbandingan umur mereka enam tahun yang akan datang ?

Jawab:

Misalkan umur ayah sekarang adalh x tahun dan umur ibu sekarang adalah y tahun, maka diperoleh sistem persamaan x : y = 4 : 3 atau y = x dan (x – 6) : (y – 6) = 7 : 5 atau 5x – 7y = –12.

y = x di substitusikan ke persamaan 5x – 7y = –12. Diperoleh:

    5x – 7y = –12                           xx = –12

5x – 7( x) = –12                                   – x = – 12

      5x –  x = –12                                   = 48

Substitusikan = 48 ke salah satu persamaan yang diperoleh y = 36 sehingga dapat diperoleh perbandingan umur ayah dan ibu pada 6 tahun mendatang adalah (x + 6) : (y + 6)      = 54 : 42

                                  =  9  : 7

F.    Sistem Persamaan Nonlinear

 1. Sistem persamaan bentuk pecahan sederhana

Contoh 12:

 +  = 1 dan   –  = – 16

Dengan memisalkan  = a dan  = b. diperoleh sistem persamaan linear dua variabel dengan variabel a dan b yaitu, 4a + 3b ­= 1 dan 5a – 2b = –16

4a + 3b ­= 1     (x2)         ⇒     8a   + 6b ­= 2  

5a – 2b = –16 (x3)          ⇒     15a – 6b = – 48 ­­+

                                        23a       =  –46

                                           a        =  –2

Gantikan nilai a = -2 dab b= 3 ke pemisahan mula-mula dan diperoleh  = -2 ⇔ x = –  dan  = 3 ⇔ y = .

Jadi, himpunan penyelesaian dari sistem persamaan diatas adalah {(- ,  )}

4a + 3b ­= 1

4(-2) + 3b ­= 1

-8 + 3b = 1

3b = 1 + 8

3b = 9

b = 3

 

 2. Sistem persamaan linear dan kuadrat

Sistem persamaan linear dan kuadrat terdiri dari fungsi linear dan fungsi kuadrat dengan dua peubah yang mempunyai bentuk umum

            y  = ax + b

            y  = px­­2 + qx + r            dengan p  0.

Himpunan penyelesaian dari sistem linear-kuadrat dapat ditentukan dengan menggunakan metode substitusi.

Contoh 13:

Tentukan hjimpunan penyelesaian dari sistem persamaan linear-kuadrat

y = x + 2 dan y = x2

Jawab:

Substitusikan y = x + 2 ke persamaan y = x2

 

x2 = X + 2

x2x – 2 = 0

(x + 1) ( x – 2) = 0

x1 = -1 atau x2 = 2

substitusikan x1 dan x2 sehingga diperoleh y1= 1 dan y2 = 4. Jadi, himpunan penyelesaian sistem persamaan linear-kuadrat diatas adalah {(-1,1),(2,4)}

 

 3. Sistem persamaan kuadrat-kuadrat

Sistem sistem persamaan kuadrat-kuadrat dngan dua peubah terdiri dari dua fungsi kuadrat. Sistem persamaan kuadrat-kuadrat mempunyai bentuk umum

y  = ax­­2 + bx + c

y  = px­­2 + qx + r               dengan a  0 dan p  0.

Himpunan penyelesaian sistem persamaan kuadrat-kuadrat dapat ditentukan dengan menggunakan metode dubdtitusi atau eliminasi.

Contoh 14:

Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan kuadrat-kuadrat

y  = x­­2 + 4x + 4

y  = 10 – x­­2

Jawab:

Substitusikan y = 10 – x2 ke y =x2 +4x +4, kemudian selesaikan dan diperoleh:

10 – x2 = x2 + 4 + 4

2x2 + 4x – 6 = 0 (x  )

x2 + 2x – 3 = 0

(x + 3)(x – 1) = 0

x1 = – 3 atau x2 = 1

y1 =1 atau y2 = 9

jadi, himpunan penyelesaian sistem persamaan kuadrat-kuadrat di atas adalah {(–3,1),(1,9)}.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adinawan, M. Cholik dan Sugijono. 2007.Matematika untuk KelasVIII. Jakarta: Erlangga

Nuharini, Dewi dkk. 2008. Matematika Konsep dan Aplikasinya untuk SMP/MTs kelas VIII. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Rahaju, E. Budi dkk.2008.Matematika Sekolah Menengah Pertama Kelas VIII. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Saleh, N. Taufiq dkk.2005. Fokus Matematika untuk SMP Kelas VIII.  Jakarta: PT. Pabelan

Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Informasi merupakan fakta, kejadian, statistik atau bentuk data lainnya yang dapat dipahami dan mempunyai arti, bernilai atau bermanfaat bagi seseorang untuk keperluan/pekerjaan tertentu.

 

Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah sistem perencanaan bagian dari pengendalian internal suatu bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia, dokumen, teknologi dan prosedur oleh akuntansi anajemen untuk memecahkan masalah bisnis sperti biaya produk layanan atau suatu strategi bisnis. Sistem informasi manajemen diedahkan dengan sistem informasi biasa karena sistem informasi manajemen digunakan untuk menganalisa sistem informasi lain yang diterapkan pada aktivitas operasional organisasi.

SIM merupakan kumpulan dari sistem informasi:

  • Sistem informasi akuntansi (accounting information systems), menyediakan informasi dan transaksi keuangan.
  • Sistem informasi pemasaran (marketing information systems), menyediakan informasi untuk penjualan, promosi penjualan, kegiatan-kegiatan pemasaran, kegiatan-kegiatan penelitian pasar dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pemasaran.
  • Sistem informasi manajemen persediaan (inventory management information systems).
  • Sistem informasi personalia (personal information systems).
  • Sistem informasi distribusi (distribution information systems).
  • Sistem informasi pembelian (purchasing information systems).
  • Sistem informasi kekayaan (treasury information systems).
  • Sistem informasi analisis kredit (credit analysis information systems).
  • Sistem informasi penelitian dan pengembangan (research and development information systems).
  • Sistem informasi analisis software
  • Sistem informasi teknik (engineering information systems).
  • Sistem informasi Rumah Sakit (Hospital information systems).

 

 

Perkembangan Sistem Informasi Manajemen :

Sebelum pertengahan abad ke-20, pada masa itu masihdigunakan kartu punch, pemakaian komputer terbatas pada aplikasi akuntansi yang kemudian dikenal sebagai sistem informasi akuntansi. Pada tahun 1964, komputer generasi baru memperkenalkan prosesor baru yang menggunakan silicon chip circuitrydengan kemampuan pemrosesan yang lebih baik. Untuk mempromosikan generasikomputer tersebut, para produsen memperkenalkan konsep sistem informasi manajemen dengan tujuan utama yaitu aplikasi komputer adalah untuk menghasilkan informasi bagi manajemen. Konsep SIM ini dengan sangat cepat diterima oleh beberapa perusahaan dan institusi pemerintah dengan skala besar seperti Departemen Keuangan.

Sementara konsep SIM terus berkembang, Morton, Gorry, dan Keendari Massachussets Institute of Technology (MIT) mengenalkan konsepbaru yang diberi nama Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support Systems – DSS). DSS adalah sistem yang menghasilkan informasi yang ditujukan pada masalah tertentu yang harus dipecahkan atau keputusan yang harus dibuat oleh manajer

 

Tujuan Umum Sistem Informasi Manajemen :

  • Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
  • Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
  • Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer  dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi  manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).

 

Beberapa kegunaan atau fungsi sistem informasi antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan aksesibilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya prantara sistem informasi.
  2. Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan sistem informasi secara kritis.
  3. Mengembangkan proses perencanaan yang efektif.
  4. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung sistem informasi.
  5. Menetapkan investasi yang akan diarahkan pada sistem informasi.
  6. Mengantisipasi dan memahami konsekuensi-konsekuensi ekonomis dari sistem informasi dan teknologi baru.
  7. Memperbaiki produktivitas dalam aplikasi pengembangan dan pemeliharaan sistem.
  8. Organisasi menggunakan sistem informasi untuk mengolah transaksi-transaksi, mengurangi biaya dan menghasilkan pendapatan sebagai salah satu produk atau pelayanan mereka.
  9. Perusahaan menggunakan sistem informasi untuk mempertahankan persediaan pada tingkat paling rendah agar konsisten dengan jenis barang yang tersedia.
  10. Sistem Informasi Manajemen untuk Pendukung Pengambilan Keputusan.
    Sebuah sistem keputusan, yaitu model dari sistem dengan mana keputusan diambil, dapat tertutup atau terbuka. Sebuah sistem keputusan tertutup menganggap bahwa keputusan dipisah dari masukkan yang tidak diketahui dari lingkungan. Dalam sistem ini pengambil keputusan dianggap mengetahui semua perangkat alternatif dan semua akibat atau hasilnya masing-masing.
  11. Sistem Informasi Manajemen Berdasarkan Kegiatan Manajemen.
  12. Sistem Informasi Untuk Pengendalian Operasional. Pengendalian operasional adalah proses pemantapan agar kegiatan operasional dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pengendalian operasional menggunakan prosedur dan aturan keputusan yang sudah ditentukan lebih dahulu. Sebagian besar keputusan bisa diprogramkan.
  13. Sistem Informasi Untuk Pengendalian Manajemen. Informasi pengendalian manajemen diperlukan oleh manajer departemen untuk mengukur pekerjaan, memutuskan tindakan pengendalian, merumuskan aturan keputusan baru untuk diterapkan personalia operasional, dna mengalokasi sumber daya.
  14. Sistem Informasi Untuk Perencanaan Strategis. Tujuan perencanaan strategis adalah untuk mengembangkan strategi dimana suatu organisasi akan mampu mencapai tujuannya. Horison waktu untuk perencanaan strategis cenderung lama, sehingga perubahan mendasar dalam organisasi bisa diadakan.
  15. Sistem Informasi Manajemen Berdasarkan Fungsi Organisasi. Sistem informasi manajemen dapat dianggap sebagai suatu federasi subsistem yang didasarkan atas fungsi yang dilaksanakan dalam suatu organisasi. Masing-masing subsistem membutuhkan aplikasi-aplikasi yntuk membentuk semua proses informasi yang berhubungan dengan fungsinya, walaupun akan menyangkut database, model base dan beberapa program komputer yang biasa untuk setiap subsistem fungsional. Dalam masing-masing subsistem fungsional, terdapat aplikasi untuk proses transaksi, pengendalian operasional, pengendalian manajemen, dan perencanaan strategis.

 

 

 

Sumber :

http://ekkydwi.tumblr.com/post/11224637743/kegunaan-atau-fungsi-sistem-informasi-manajemen-pada

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi_manajemen

http://melishaputri.wordpress.com/2012/10/10/penjelasan-mengenai-sistem-informasi-manajemen-dan-teknologi-informasi/

PEMILIHAN DAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

MEDIA PEMBELAJARAN

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ”tengah”, ”perantara” atau ”pengantar”. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Jadi, media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran.

Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Ujung akhir dari pemilihan media adalah penggunaaan media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dapat berinteraksi dengan media yang kita pilih.

Sedangkan pengertian media pendidikan secara definitive, para ahli memberi rumusan yang berbeda, masing-masing memiliki wawasan dan orientasi yang berlainan, namun demikian pada prinsipnya ada kesamaan pengertian yang mendasar. Dan dapat diambil kesimpulan bahwa media pendidikan atau pengajaran  adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengiriman ke si penerima guna merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga terjadi dapat mendorong terjadinya proses belajar. Sebagai pembawa (penyalur) pesan, media pengajaran tidak hanya digunakan oleh guru, tetapi yang lebih penting dapat pula digunakan oleh

Berikut adalah pengertian media pembelajaran menurut beberapa ahli

–       Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.

–       National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.

–       Schramm “media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.”

–       Oemar Hamalik (1980) “Mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah

–        Latuheru(1988:14), menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna.

 

TUJUAN MEDIA  PEMBELAJARAN

Tujuan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran, adalah sebagai berikut :

  1. mempermudah proses pembelajaran di kelas
  2. meningkatkan efisiensi proses pembelajaran
  3. menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar
  4. membantu konsentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran

 

MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN

Manfaat media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut :

  1. pengajaran lebih menarik perhatian pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
  2. bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih di pahami pembelajar, serta memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik
  3. metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-semata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, pembelajar tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan tenaga.
  4. pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan penjelasa dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lainya.

 

1)      Manfaat Media pembelajaran bagi pengajar, yaitu:

  1. memberikan pedoman, arah untuk mencapai tujuan
  2. menjelaskan struktur dan urutan pengajarn dengan baik
  3. memberikan kerangka sistematis secara baik.
  4. memudahkan kembali pengajar terhadap materi pembelajaran
  5. membantu kecermatan, ketelitian dalam penyajian dalam pembelajaran.
  6. membangkitkan rasa percaya diri seorang pengajar.
  7. meningkatkan kualitas pembelajaran

2)      Manfaat media  pembelajaran bagi pembelajar, yaitu:

  1. meningkatkan motivasi belajar pembelajar
  2. memberikan dan meningkatkan variasi belajar pembelajar
  3. memberikan struktur materi pelajaran
  4. memberikan inti informasi pelajaran
  5. merangsang pembelajar untuk berpikir dan beranalisis.
  6. menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan.
  7. pelajar dapat memahami materi pelajaran dengan sistematis yang disajikan pengajar .

 

FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN

1. Media sebagai sumber belajar

Belajar adalah proses aktif dan konstruktif melalui suatu pengalaman dalam memperoleh informasi. Dalam proses aktif tersebut, media pembelajaran berperan sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa. Artinya melalui media peserta didik memperoleh pesan dan informasi sehingga membentuk pengetahuan baru pada siswa. Dalam batas tertentu, media dapat menggantikan fungsi guru sebagai sumber informasi/pengetahuan bagi peserta didik. Media pembelajaran sebagai sumber belajar merupakan suatu komponen system pembelajaran yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan, yang dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik. (Mudhoffir,dalam Munadi, 2008).

2. Fungsi Semantik

Semantik berkaitan dengan “meaning” atau arti dari suatu kata, istilah, tanda atau symbol.

3. Fungsi Manipulatif

Fungsi manipulatif adalah kemampuan media dalam menampilkan kembali suatu benda/peristiwa dengan berbagai cara, sesuai kondisi, situasi, tujuan dan sasarannya.

4. Fungsi fiksatif

Fungsi fiksatif adalah fungsi yang berkenaan dengan kemampuan suatu media untuk menangkap, menyimpan kembali suatu objek atau kejadian yang sudah lama terjadi.

5. Fungsi Ditributif

Fungsi distributif media pembelajaran berarti bahwa dalam sekali penggunaan satu materi, objek atau kejadian, dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar (tak terbatas) dan dalam jangkauan yang sangat luas sehingga dapat meningkatkan efesiensi baik waktu maupun biaya.

6. Fungsi Psikologis

dari segi psikolgis, media pembelajaran memiliki beberapa fungsi seperti fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif fungsi imajinatif dan fungsi motivasi.

7. Menurut Derek Rowntree, media dapat:

  • Membangkitkan motivasi belajar
  • Mengulang apa yang telah dipelajari
  • Menyediakan stimulus belajar
  • Mengaktifkan respon murid
  • Memberikan feedback dengan segera
  • Menggalakkan latihan yang serasa

8.    Menurut Edgar Dale, Finn dan Hobar, media dapat:

a.      Memberikan pengalaman konkrit bagi pemikiran yang abstrak

b.      Mempertinggi perhatian murid

c.       Memberikan realitas, mendorong self actifity

d.      Memberikan hasil belajar yang permanent

e.       Menambah perbendaharaan bahasa

f.       Memberikan pengalaman lain yang sukar diperoleh dengan cara lain.

 

9.    Livie dan Lentz(1982) mengemukakan 4 fungsi media pembelajaran yaitu:

a.      Fungsi atensi berarti media visual merupakan inti, menarik dan mengrahkan perhatian pembelajar akan berkosentrasi pada isis pelajaran

b.      Fungsi afekti maksudnya media visual dapat dilihat dari tingkat kenikmaran pembelajar ketika belajar membaca teks bergambar.

c.       Fungsi kognitif yaitu mengungkapkan bahwa lambang visual mempelancar pencapaian tujuan dalam memahami dan mendengar informasi

d.      Fungsi kompensatoris yaitu media visual memberikan konteks untuk memahami teks dan membantu pembelajar yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Dari empat fungsi visual, dapat dikatakan bahwa belajar dari pesan visual memerlukan keterampilan tersendiri. tehnik afektif adalah tehnik untuk memahami tehnik pesan visual. yang terbagi dari beberapa fase seperti dibawah ini:

1)      fase diffrensiasi. yaitu dimana pembelajar mula-mula mengamati, mengidentifikasi dan menganalisis

2)      fase integrasi yaitu di mana mempelajar menempatkan unsure-unsur visual secara serempak, menghubungkan pesan-pesan visual kepada pengalaman pengalamannya.

3)      kesimpulan, yaitu dari pengalaman visualisai untuk kemudian menciptakan konseptualisasi baru dari apa yang mereka pelajari sebelumnya.

 

 

PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN

Berdasarkan ketersediaannya media dapat dikelompokkan menjadi Media Jadi (Media By Utilization) dan Media Rancangan (Media By Design) alasan utama seseorang menggunakan media adalah media dapat berbuat lebih dari biasa yang dilakukan. Pemilihan media dilakukan agar penggunaan media dapat mencapai tujuan pembelajaran, maka haruslah dipilih media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Kriteria Dalam Pemilihan Media Pembelajaran

Dalam lembaga pendidikan formal, berbagai media pendidikan dapat digunakan sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar, baik media jadi yang dibeli dari toko/pasar bebas maupun media yang dibuat sendiri, ataupun media yang disiapkan dan dikembangkan oleh sekolah sendiri.

Dalam hal ini guru haruslah pandai dalam memilih media apa yang sesuai dan cocok digunakan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Untuk itu beberapa faktor dan kriteria yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menggunakan media,  diantaranya :

1.    Faktor tujuan.

Media dipilih dan digunakan haruslah sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan/ dirumuskan

2.    Faktor Efektifitas.

Dari berbagai media yang ada, haruslah dipilih media yang paling efektif untuk digunakan dan paling tepat/sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dirumuskan

3.    Faktor kemampuan guru dan siswa. 

Media yang dipilih dan digunakan haruslah sesuai dengan kemampuan yang ada pada guru dan siswa, sesuai dengan pola belajar serta menarik perhatian

4.    Faktor fleksibilitas (Kelenturan), tahan lama dengan kenyataan. 

Dalam memilih media haruslah dipertimbangkan kelenturan dalam arti dapat digunakan dalam berbagai situasi, tahan lama (tidak sekali pakai langsung dibuang), menghemat biaya dan tidak berbahaya sewaktu digunakan.

5.    Faktor kesediaan media. 

Sekolah tidak sama dalam menyediakan berbagai media yang dibutuhkan untuk kegiatan belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah. Misalnya guru membuat sensiri, membuat bersama-sama siswa, membeli, menyewa, dll

6.    Faktor kesesuaian antara manfaat dan biaya.

Dalam memilih media haruslah dipertimbangkan apakah biaya pengadaannya sesuai dengan manfaat yang didapatkan

7.    Faktor kualitas dan tehnik. 

Dalam pengadaan media, seorang guru harus mempertimbangkan kualitas dari media tersebut, tidak sekedar bisa dipakai. Media yang bernutu/berkualitas bisa tahan lama (tidak mudah rusak), dan sewaktu-waktu digunakan lagi tidak harus mengusahakan yang baru.

8.    Objektifitas.

Metode dipilih bukan atas kesenangan atau kebutuhan guru, melainkan keperluan sistem belajar. Karena itu perlu masukan dari siswa.

9.    Program pengajaran

Program pengajaran yang akan disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, baik menyangkut isi, struktur maupun kedalaman.

10.    Sasaran program

Media yang akan digunakan harus dilihat kesesuaiannya dengan tingkat pekembangan anak didik, baik dari segi bahasa, simbol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan maupun waktu penggunaannya.

 

Kriteria khusus yang dapat kita gunakan untuk memilih media pembelajaran yang tepat dapat mempertimbangkan faktor Acces, Cost, Technology, Interactivity, Organization, dan Novelty (ACTION). Penjelasan dari akronim tersebut sebagai berikut:

  • Acces, artinya media yang diperlukan dapat tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan siswa
  • Cost, artinya media yang akan dipilih atau digunakan, pembiayaannya dapat dijangkau.
  • Technology, artinya media yang akan digunakan apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya.
  • Interactivity, artinya media yang akan dipilih dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Sehingga siswa akan terlibat (aktif) baik secara fisik, intelektual dan mental.
  • Organization, artinya dalam memilih media pembelajaran tersebut, secara organisatoris mendapatkan dukungan dari pimpinan sekolah (ada unit organisasi seperti pusat sumber belajar yang mengelola).
  • Novelty, artinya media yang dipilih tersebut memiliki nilai kebaruan, sehingga memiliki daya tarik bagi siswa yang belajar.

Media-media yang akan dipilih dalam proses pembelajaran juga harus memenuhi syarat-syarat visible, intresting, simple, useful, accurate, legitimate, structure (VISUALS). Penjelasan dari syarat tersebut adalah:

  • Visible atau mudah dilihat, artinya media yang digunakan harus dapat memperikan keterbacaan bagi orang lain yang melihatnya
  • Interesting atau menarik, yaitu media yang digunakan harus memiliki nilai kemenarikan. Sehingga yang melihatnya akan tergerak dan terdorong untukmemperhatikan pesan yang disampaikan melalui media tersebut
  • Simple atau sederhana, yaitu media yang digunakan juga harus memiliki nilai kepraktisan dan kesederhanaan, sehingga tidak berakibat pada in-efesiensi dalam pembelajaran
  • Useful atau bermanfaat, yaitu media yang digunakan dapat bermanfaat dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan,
  • Accurate  atau benar, yaitu media yang dipilih benar-benar sesuai dengan karakteristik materi atau tujuan pembelajaran. Atau dengan kata lain media tersebut benar-benar valid dalam pembuatan dan penggunaannya dalam pembelajaran
  • Legitimate atau Sah, masuk akal artinya media pembelajaran dirancang dan digunakan untuk kepentingan pembelajaran oleh orang atau lembaga yang berwenang (seperti guru)
  • Structure atau tersetruktur artinya media pembelajaran, baik dalam pembuatan atau penggunaannya merupakan bagian tak terpisahkan dari materi yang akan disampaikan melalui media tersebut.

 

Alasan Praktis Pemilihan Media

Alasan praktis berkaitan dengan pertimbangan- pertimbangan dan alasan si pengguna seperti guru, dosen, instruktur mengapa menggunakan media dalam pembelajaran. Terdapat beberapa penyebab orang memilih media, antara lain dijelaskan oleh Arif Sadiman (1996:84) sebagai berikut :

1)      Demonstration.

Dalam hal ini media dapat digunakan sebagai alat untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, objek, kegunaan, cara mengoperasikan dan lain- lain. Media berfungsi sebagai alat peraga pembelajaran, misalnya seorang dosen sedang menerangkan teknik mengoperasikan Overhead Projector (OHP), pada saat menjelaskannya menggunakan alat peraga berupa OHP, dengan cara mendemonstrasikan dosen tersebut menjelaskan, menunjukkan dan memperlihatkan cara-cara mengoperasikan OHP. Contoh lain, seorang guru kimia akan menjelaskan proses perubahan-perubahan zat dengan menggunakan gelas ukur, sebelum dilakukan praktikum, terlebih dahulu guru tersebut memperagakan bagaimana cara menggunakan gelas ukur dengan baik. Untuk lebih jelas, kita lihat contoh ketiga, seorang guru Biologi akan membelajarkan siswa tentang bentuk dan struktur sel dengan menggunakan mikroskop, maka sebelum praktikum dimulai, sebelum siswa meletakan objek pada mikroskop untuk diamati maka guru tersebut menunjukan cara kerja Mikroskop sesuai dengan prosedur yang benar, cara ini akan memperlancar proses belajar dan menghindari resiko kerusakan pada alat praktikum yang digunakan. Beberapa alasan tersebut sering melandasi pengguna dalam menggunakan media yaitu bertujuan untukmendemonstrasikan atau memperagakan sesuatu.

2)      Familiarity.

Pengguna media pembelajaran memiliki alasan pribadi mengapa ia menggunakan media, yaitu karena sudah terbiasa menggunakan media tersebut, merasa sudah menguasai media tersebut, jika menggunakan media lain belum tentu bisa dan untuk mempelajarinya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, sehingga secara terus menerus ia menggunakanmedia yang sama. Misalnya seorang dosen yang sudah terbiasa menggunakan media Over Head Projector (OHP) dan Over Head Transparancy (OHT, kebiasaan menggunakan media tersebut didasarkan atas alas an karena sudah akrab dan menguasai detil dari media tersebut, meski sebaiknya seorang guru lebih variatif dalam memilih media, dalam konsepnya tidak ada satu media yang sempurna, dalam arti kata tidak ada satu media yang sesuai dengan semua tujuan pembelajaran, sesuai dengan semua situasi dan sesuai dengan semua karakteristik siswa. Media yang baik adalah bersifat kontekstual sesuai dengan realitas kebutuhan belajar yang dihadapi siswa. Jika kita lihat pada contoh di atas, media OHP lebih tepat untuk mengajarkan konsep dan aspek-aspek kognitif, dapat digunakan dalam jumlah siswa maksimal 50 orang dengan ruangan yang tidak terlalu besar dan siswa cenderung pasif tidak dapat melibatkan secara optimal kontrol pembelajaran ada pada guru. Tentu saja OHP kurang tepat untuk mengajarkan keterampilan yang menuntut demonstrasi, praktek langsung yang lebih membuat siswa aktif secara fisik dan mental. Alasan familiarity tentu saja tidak selamanya tepat, jika tidak memperhatikan tujuannya. Meski demikian alasan ini cukup banyak terjadi dalam pembelajaran.

3)      Clarity

Alasan ketiga ini mengapa guru menggunakan media adalah untuk lebih memperjelas pesan pembelajaran dan memberikan penjelasan yang lebih konkrit. Pada praktek pembelajaran, masih banyak guru tidak menggunakan atau tanpa media, metode yang digunakan dengan ceramah (ekspository), cara seperti ini memang tidak merepotkan guru untuk menyiapkan media, cukup dengan menguasai
materi, maka pembelajaran dapat berlangsung, namun apakah pembelajaran seperti ini akan berhasil? Cara pembelajaran seperti ini cenderung akan mengakibatkan verbalistis, yaitu pesan yang disampaikan guru tidak sama dengan persepsi siswa, mengapa hal ini bisa terjadi? Karena informasi tidak bersifat konkrit, jika guru tidak mampu secara detil dan spesifik menjelaskan pesan pembelajaran, maka verbalistis akan terjadi. Misalnya seorang guru IPA di Sekolah Dasar sedang menjelaskan ciri-ciri mahluk hidup, diantaranya bahwa mahluk hidup dapat bernafas dengan insang dan paru-paru. Jika guru tidak cermat mengemas informasi dengan baik hanya berceramah saja maka siswa yang tidak pernah melihat bentuk paru-paru dan insang maka akan membayangkan bentuk-bentuk lain yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Disinilah banyak pengguna media, memiliki alasan bahwa menggunakan media adalah untuk membuat informasi lebih jelas dan konkrit sesuai kenyataannya. Alasan ini lebih tepat dipilih guru dibanding dengan alasan kedua di atas.

4)      Active Learning

Media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukan oleh guru. Salah satu aspek yang harusdiupayakan oleh guru dalam pembelajaran adalah siswa harus berperan secara aktif baik secara fisik, mental, dan emosional. Dalam prakteknya guru tidak selamanya mampu membuat siswa aktif hanya dengan cara ceramah, tanya jawab dan lain-lain namun diperlukan media untuk menarik minat atau gairah belajar siswa. Seperti pendapat Lesle J. Briggs (1979) menyatakan bahwa media pembelajaran sebagai “the physical means of conveying instructional content……….book, films, videotapes, etc. Lebih jauh Briggs menyatakan media adalah “alat untuk memberi perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar. Sedangkan mengenai efektifitas media, Brown (1970) menggaris bawahi bahwa media yang digunakan guru atau siswa dengan baik dapat mempengaruhi efektifitas program belajar mengajar. Sebagai contoh seorang guru memanfaatkan teknologi komputer berupa CD interaktif untuk mengajarkan materi fisika. Dengan CD interaktif seorang siswa dapat lebih aktif mempelajari materi dan menumbuhkan kemandirian belajar, guru hanya mengamati, dan mereviu penguasaan materi oleh siswa. Cara seperti ini membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar, terlebih kemasan program CD interaktif dengan multimedia menarik perhatian dan membuat pesan pembelajaran lebih lengkap dan jelas.

Contoh lain dapat dilihat pada pelatihan Emotional Spiritual Question (ESQ), salah satu tujuan pelatihan ini adalah menumbuhkan seoptimal mungkin motivasi peserta untuk berbuat positif dengan spirit yang besar dan optimalisasi potensi individu, diantaranya dengan cara mengkaji proses dan kejadian serta fenomena alam (ayat qauniyyah), untuk mewujudkan tujuan ini digunakan banyak visualisasi (media video) untuk memperlihatkan tayangan- tayangan yang mampu meningkatkan motivasi peserta, dan secara empiric terbukti mampu meningkatkan motivasi peserta. Seperti yang dijelaskan di awal, bahwa keberadaan media dapat diperoleh dengan cara memanfaatkan yang sudah ada, baik media realia yaitu media alami yang tersedia di alam sekitar misalnya : gunung, sawah, air, berbagai jenis batuan, hewan, tumbuhan dan lain-lain. Media juga dapat diperoleh dengan cara pembelian.

Membeli berarti tidak terjadi proses desain oleh pengguna, media yang sudah ada langsung dimanfaatkan oleh pengguna. Beberapa media dengan berbagai materi pelajaran sekolah berbagai jenjang pendidikan sudah dapat dijumpai di beberapa toko buku, atau di toko yang khusus menjual alat-alat dan media pembelajaran. Media yang mudah kita jumpai terutama yang berhubungan dengan Sain dan pelajaran IPS. Misalnya torso berupa bentuk kerangka manusia, Microscope, loop, mokeup, dan kit alat-alat praktikum. Pada pelajaran IPS misalnya globe, peta, dan lain-lain.

Tugas pengguna adalah memilih media yang tepat dengan kebutuhan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik materi pembelajaran. Tentu saja hal ini tidaklah mudah, diperlukan analisis dan pertimbangan-pertimbangan yang matang sehingga membeli media berarti manfaat yang diperoleh bukan kesia-sian.

 

Prinsip-Prinsip Dalam Penggunaan Media Pembelajaran

Dalam proses belajar mengajar seorang guru belum cukup apabila hanya mengetahui kegunaan dan mengetahui penggunaan media pembelajaran, melainkan harus mengetahui dan terampil bagaimana cara menggunakannya. Sehubungan dengan hal itu, ada beberapa prinsip/kriteria penggunaan media yang perlu dipedomani oleh guru dalam proses belajar mengajar yaitu  :

  1. Ketepatan dengan tujuan pembelajaran, artinya media pembelajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan
  2. Dukungan terhadap isi bahan pembelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip yang sangat memerlukan bantuan media agar mudah dipahami siswa
  3. Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah memperolehnya, setidak-tidaknya dapat dibuat oleh guru pada saat mengajar atau mungkin sudah tersedia di sekolah
  4. Ketrampilan guru dalam menggunakan media, apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru harus dapat menggunakan dalam proses pembelajaran
  5. Tersedianya waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa pada saat pelajaran berlangsung
  6. Sesuai dengan taraf berfikir siswa sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami siswa.

 

Langkah-Langkah Memilih Media

Untuk jenis media rancangan (by design), beberapa macam cara  telah dikembangkan untuk memilih media.  Dalam proses pemilihan ini,  Anderson (1976) mengemukakan prosedur pemilihan media menggunakan pendekatan flowchart (diagram alur). Dalam proses tersebut ia mengemukan beberapa  langkah dalam pemilihan dan penentuan jenis penentuan media, yaitu :

  • Menentukan apakah pesan yang akan kita sampaikan melalui media termasuk  pesan pembelajaran atau hanya sekedar  informasi umum/hiburan.   Jika  hanya sekedar informasi umum akan diabaikan karena prosedur yang dikembangkan khusus untuk pemilihan media yang bersifat/untuk keperluan pembelajaran.
  • Menentukan apakah media itu dirancang untuk keperluan pembelajaran atau hanya sekedar alat bantu mengajar bagi guru  (alat peraga). Jika sekedar alat peraga,  proses juga dihentikan ( diabaikan).
  • Menentukan apakah tujuan pembelajaran lebih bersifat kognitif, afektif atau psikomotor.
  • Menentukan jenis media yang  sesuai untuk jenis tujuan yang akan dicapai, dengan mempertimbangkan kriteria lain seperti kebijakan, fasilitas yang tersedia, kemampuan produksi dan biaya.
  • Me-review kembali jenis media yang telah dipilih, apakah sudah tepat atau masih terdapat kelemahan, atau masih ada alternatif jenis media lain yang lebih tepat. Merencanakan, mengembangkan dan memproduksi media.

Anderson (1976) menyarankan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam pemillihan media pembelajaran.

1.Penerangan atau pembelajaran

Langkah pertama menentukan apakah pengguna media untuk keperluan informasi atau pembelajaran. Media untuk keperluan informasi, penerima informasi tidak ada kewajiban untuk dievaluasi kemampuan/keterampilannya dalam menerima informasi, sedangkan media untuk keperluan pembelajaran penerima pembelajaran harus menunjukan kemampuan sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.

 

2. Tentukan transmisi pesan

Dalam kegiatan ini kita sebenarnya dapat menentukan pilihan, apakah dalam proses pembelajaran akan digunakan ‘alat bantu pengajaran’. Alat bantu pengajaran alat yang didesain, dikembangkan dan diproduksi untuk memperjelas tenaga pendidik dalam mengajar. Sedangkan media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terjadi interaksi antara produk pengembang media dan peserta didik/pengguna. Atau dengan kata lain peran pendidik sebagai penyampai materi pembelajaran digantikan oleh media.

 

3. Tentukan karakteristik pelajaran

Asumsi kita bahwa kita telah meyusun desain pembelajaran, dimana kita telah melakukan analisis tentang mengajar, merumuskan tujuan pembelajaran, telah memilih materi dan metode. Selanjutnya perlu dianalisis apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan itu termasuk dalam ranah kognitif, afektif atau psikomotor. Masing-masing ranah tujuan tersebut memerlukan media yang berbeda.

 

4. Klasifikasi media

Media dapat diklasifikasikan sesuai dengan cirri khusus masing-masing media. Berdasarkan persepsi dari masnusia normal bahwa media dapat diklasifikasikan menjadi media auto, media video dan audio visual. Berdasarkan cirri dan bentuk fisiknya media dapat dikelomokkan menjadi media proyeksi(diam dan gerak) dan media non proyeksi(dua dimensi dan tiga dimensi). Sedangkan jika diklasifikasikan berdasarkan keberadaannya, media dikelompokkan menjadi dua yaitu, media media yang berada di ruang kelas dan media-media yang berada di luar ruang kelas. Masing-masing media tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan bila dibandingkan dengan media lain.

 

5. Analisis karakteristik masing-masing media

Media pembelajaran yang banyak macam perlu dianalisis kelebihan dan kekurangannya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pertimbangan pula dari aspek-aspek ekonomi dan ketesediaannya. Dari berbagai alternative kemudian dipilih media yang tepat.

 

 

 

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

 

Poster

Poster mampu memperngaruhi perilaku, sikap, dan tata nilai masyarakat untuk berubah atau melakukan   sesuatu. Hal yang membuat poster memiliki kekuatan untuk dicerna oleh orang yang melihat, karena poster lebih menonjolkan kekuatan pesan, visual, dan warna. Hal tersebut sesuai dengan pandangan Nana Sudjana (2005:51) bahwa poster adalah media yang mengkombinasikan antara visual dari rancangan yang kuat dengan warna serta pesan dengan maksud untuk menangkap perhatian orang yang lewat tetapi cukup lama menanamkan gagasan yang berarti dalam ingatannya.

Flipchart

Flipchart dalam pengertian sederhana adalah lembaran-lembaran kertas menyerupai album atau kalender berukuran 50 x 75 cm, atau ukuran yang lebih kecil 21 x 28 cm sebagai flipbook yang disusun dalam urutan yang diikat padfa bagian atasnya. Dalam penggunaannya dapat dibalik jika pesan pada lembaran depan sudah ditampilkan dan digantikan dengan lembar berikutnya yang sudah disediakan. Flipchart hanya cocok untuk digunaka di kelompok kecil yaitu 30 orang. Sedangkan flipbook untuk 4-5 orang. Flipchart merupakan salah satu media cetakan yang sangat sederhana dan cukup efektif.

Flipchart cukup efektif karena dapat dijadikan sebagai media (pengantar) pesan pembelajaran yang secara terencana ataupun secara langsung disajikan pada flipchart. Indicator efektif adalah tercapainya tujuan atau kompetensi yang sudah direncanakan. Penggunaan flipchart merupakan salah satu cara guru dalam menghemat waktunya untuk menulis di papan tulis.

Bagan

Bagan menurut Nana Sudjana ( 2005:27 ) adalah kombinasai antara media grafis, gambar, dan foto yang dirancang untuk memvisualisasikan secara logis dan teratur mengenai fakta pokok atau gagasan. Sebagai media visual, bagan merupakan media yang membantu menyajikan pesan pembelajaran melalui visualisasi dengan tujuan metri yang kompleks dapat disederhanakan sehingga siswa nudah untuk mencerna model-model tersebut.

Kegunaan bagan adalah untuk menunjukan hubungan, keterkaitan, perbandingan, jumlah yang relative, perkembangan tertentu, proses tertentu, mengklasifikasikan, dan pengorganisasian.

Grafik

Secara sederhana grafik dapat diartikan sebagai media yang memvisualisasikan data-data dalam bentuk angka. Grafik menggambarkan hubungan satu dua atau lebih data atau grafik dengan data yang swama menggambarkan hubungan penting dari suatu data. Tujuan pembuatan grafik adalah menunjukan perbandingan, informasi, kualitatif dengan cepat serta sederhana.

Komik

Komik dapat didefinisikan sebagai bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan menerapkan suatu cerita dalam urutan yang erat hubungannya dengan gambar dan dirancang memberikan hiburan kepada para pembaca.

Media Foto

Foto merupakan salah satu media pembelajaran yang cukup popular dan sudah lama digunakan dalam pembelajaran. Hal ini karena foto cukup praktis, sederhana, mudah digunakan tidak membutuhkan alat proyeksi dan tidak membutuhkan peralatan tambahan. Media foto termasuk kategori gambar diam ( still picture ) artinya sajian visual dalam foto tidak bergerak. Foto dapat digunakan dalam pembelajaran secara individual, kelompok kecil atau kelompok besar.

Overhead Projector

Pada dasrnya OHP ( overhead projector ) berguna untuk memproyeksikan transparankearah layar yang jaraknya relative pendek, dengan hasil gambar atau tulisan yang cukup besar. Projector ini direncanakan dibuat untuk digunakan oleh guru di depan kelas dengan penerangan yang normal, sehingga tetap terjadi komunikasi antara guru dengan siswa.

Media Audio

1)        Alat perekam

Alat perekam berfungsi untuk memperdengarkan audio ( player ) pada umumnya menggunakan tape yang menggunakan kaset. Sesuai dengan perkembangan teknologi sekarang sudah banyak alat perekam audio, seperti ipod, mp3, dan lain-lain. Materi pelajaran terlebih dahulu disiapkan kemudian direkam dan disajikan baik dikelas classical dengan jumlah siswa banyak maupun untuk belajar secara mandiri. Materi pelajaran yang dapat disajikan diantaranya : ppembelajaran musik literacy ( pembacaan sajak ), pembelajaran bahasa asing, dan lain-lain.

2)      Laboratorium bahasa

Laboratorium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengarkan dan berbicara dalam bahasa asing dengan jalan menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya, media yang digunakan adalah alat perekam.

Multimedia projector

Kini, hampir sebagian besar pasar projector dikuasai oleh projector digital. Mulai dari yang berteknologi LCD ( Liquid Crystal Display ), DLP ( digital Light Processing ), sampai tenologi terbaru yang kini tengah beranjak popular, LCOS ( Liquid Crystal On Single Crystal Silicon ). Tidak heran, karena projector digital ini memang bobotnya relative ringan, dan harganya pun relative jauh dibawah projector CRT. Untuk melakukan mengajar sudah sangat memungkinkan guru untuk menggunakan multimedia projector atu lebih dikenal dengan LCD projector.

Multimedia projector adalah sebuah alat proyeksi yang mampu menampilkan unsure-unsur media seperti gambar, teks, video, animasi, video baik secara terpisah maupun gabungan diantara unsure-unsur media tersebut dapat dikoneksikan dengan perangkat elektronika lainnya seperti computer, video player, dan lain-lain. Yang dapat digunakan untuk kegiatan presentasi, pembelajaran, pemutaran film, dan lain-lain

 

Sumber :

http://ady-putrar.blogspot.in/2013/04/pemilihan-media-pengajaran.html

http://b420k.blogspot.com/2012/10/prosedur-pemilihan-media-pembelajaran.html

http://belajarpsikologi.com/pengertian-media-pembelajaran/

http://der-traumer.blogspot.com/2012/09/pengertian-tujuan-manfaat-dan-fungsi.html

http://fitrianielektronika.blogspot.com/2013/04/pengertian-media-pembelajaran-menurut.html

http://liafitriani-berkarya.blogspot.com/2012/01/pemilihan-dan-pengembangan-media.html

http://sulaiman-ump.blogspot.com/2011/06/pemilihan-media-pembelajaran.html

 

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan (George Terry). Drs. Ngalim Purwanto berpendapat bahwa Kepemimpinan adalah tindakan/perbuatan di antara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan baik orang seorang maupun kelompok maju ke arah tujuan-tujuan tertentu.

Kepemimpinan adalah kemampuan seni mempengaruhi tingkah laku manusia dan kemampuan untuk membimbing beberapa orang untuk mengkordinasikan dan mengarahkan dengan maksud dan tujuan tertentu. Untuk dapat menggerakkan beberapa orang pelaksana, seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibandingkan orang yang dipimpinnya misalnya kelebihan dalam menggunakan pikirannya,  rohaniah, dan badaniah. Agar dapat menggunakan kelebihanya tersebut, seorang pemimpin suatu organisasi difasilitasi dengan apa yang disebut dengan tugas dan wewenang.

  • Kepemimpinan Otoriter (Authoritarian Leadership)

Seperti yang kita ketahui, bahwa kekuasaan otoriter gaya kepemimpinan berdasarkan pada kekuasaan yang mutlak dan penuh. Dengan kata lain, sang pemimpin yang dalam kepemimpinan ini disebut juga sebagai diktator, bertindak mengarahkan pikiran, perasaan dan prilaku orang lain kepada suatu tujuan yang telah ditetapkannya. Artinya segala ketentuan dan keputusan berada di tangan si pemimpin. David Krech, Richard S. Crutchfield, Egerton L. Ballachey,menggambarkan mengenai kepemimpinan ini: bahwa dalam suatu kelompok yang sangat kecil, antara pemimpin dan pengikut terjadi kontak pribadi karena komunikasi berlangsung secara interpersonal, namun ketika kelompok menjadi besar, maka hubungan antara pemimpin menjadi semakin jauh dan melalui peringkat peringkat. Organisasi hirarkis pada kelompok otoriter dapat dikaji sebagai konsekwensi dari tujuan si pemimpin untuk senantiasa memelihara posisinya sebagai kekuasaan sentral. Dan menurut David Krech, Richard S. Crutchfield, Egerton L. Ballachey, Suasana seperti ini kondusif untuk frustasi dan agresi serta meningkatnya ketegangan dan konflik intra kelompok.

  • Kepemimpinan Demokratis (Democratic Leadership)

Yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya atau cara memimpin yang demokratis, dan bukan karena dipilihnya si pemimpin secara demokratis. Gaya yang demokratis seperti ini misalnya saja si pemimpin memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada para bawahan dan pengikutnya untuk mengemukakan pendapatnya, saran dan kritikkannya dan selalu berpegang pada nilai-nilai demokrasi pada umumnya.

  • Kepemimpinan Bebas (Laisez Faire Leadership)

Dalam kepemimpinan jenis ini, sang pemimpin biasanya menunjukkan suatu gaya dan prilaku yang pasif dan juga seringkali menghindari dirinya dari tanggung jawab. Dalam prakteknya, Si pemimpin hanya menyerahkan dan menyediakan instrumen dan sumber-sumber yang diperlukan oleh anak buahnya untuk melaksanakan suatu pekerjaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan pimpinan. Pimpinan yang memiliki gaya ini memang berada diantara anak buahnya, akan tetapi ia tidak memberikan motivasi, pengarahan dan petunjuk, dan segala pekerjaan diserahkan kepada anak buahnya.

Menurut Paul Hersey dan Ken. Blanchard, Terdapat 4 gaya kepemimpinan yaitu:

1. Memberitahukan, Menunjukkan, Memimpin, Menetapkan (Telling-Directing)

2. Menjual, Menjelaskan, Memperjelas, Membujuk (Selling-Coaching)

3. Mengikutsertakan, memberi semangat, kerja sama (Participating-Supporting)

4. Mendelegasikan, Pengamatan, Mengawasi, Penyelesaian (Delegating)

Pemimpin pendidikan adalah orang yang memilki kelebihan untuk mempengaruhi, mengajak, mendorong, membimbing, menggerakkan dan mengkoordinasikan staf pendidikan lainnya ke arah peningkatan mutu pendidikan.

Pemimpin Resmi,  dimilki oleh orang yang menduduki posisi dalam struktur pendidikan. Pemimpin tidak resmi, bisa dimilki oleh setiap orang yang memberikan araha kepada perbaikan pendidikan

Pemimpin resmi “ status leader “ merupakan sebutan bagi mereka yang menduduki posisi pimpinan dalam dalam struktur organisasi pendidikan. Misal : kepala sekolah, pengawas atau penilik sekolah, kepala dinas pendidikan dsb, umumnya diangkat dan ditunjuk oleh atasannya. Sedangkan pemimpin tidak resmi “ real leader” adalah sebutan bagi mereka yang mampu mempengaruhi dan mendorong kearah perbaikan pendidikan dan pengajaran, walaupun mereka tidak menduduki posisi pimpinan dalam struktur organisasi pendidikan.

Nawawi ( 1988 ) menyimpulkan bahwa fungsi kepemimpinan pendidikan, yaitu :

  1. Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat, baik secara perorangan maupun kelompok sebagai usaha mengumpulkan data/bahan dari anggota kelompok dalam menetapkan keputusan yang mampu memenuhi aspirasi dalam kelompoknya.
  2. Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dengan memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap kemampuan orang-orang yang dipimpn sehingga timbul kepercayaan pada dirinya sendiri dan kesediaan menghargai oranglain sesuai dengan kemampuan masing-masing.
  3. Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat dengan sikap harga-mengargai, sehingga timbul perasaan ikut terlibat dalam kegiatan kelompok/organisasi dan tumbuh perasaan bertanggung jawab atas tewujudnya pekerjaanmasing-masing sebagai bagian dari usaha pencapaian tujuan.
  4. Membantu menyelesaikan masalah-masalah, baik yang dihadapi secara perorangan maupun kelompok dengan memberikan petunjukpetunjuk untuk mengatasinya, sehingga berkembang kepedulian dan kesediaan untuk memecahkan dengan kemampuan sendiri.

PRINSIP-PRINSIP KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

  1. Prinsip pelayanan, bahwa kepemimpinan sekolah harus menerapkan unsur-unsur pelayanan dalam kegiatan operasional sekolahnya.
  2. Prinsip persuasi, pemimpin dalam menjalankan tugasnya harus memperhatikan situasi dan kondisi setempat demi keberhasilan keberhasilan kepemimpinannya yang sedang dan yang akan dilaksanakan.
  3. Prinsip bimbingan, pemimpin pendidikan hendaknya membimbing peserta didik kearah tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan perkembangan peserta didik yang ada dilembaganya.
  4. Prinsip efisiensi, mengarah pada cara hidup yang ekonomis dengan pengeluaran sedikit untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
  5. Prinsip berkesinambungan, agar pemimpin pendidikan ini diterapkan tidak hanya pada satu waktu saja, tetapi perlu secara terus menerus.

SYARAT-SYARAT KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

  1. Syarat-syarat formal, Seseorang yang menjabat kepala sekolah dilingkungan Departemen Pendidikan Nasional diruskan dalam Kepmen Diknas RI No : 162/U/2003 tentang pedoman penugasan guru sebagai Kepala Sekolah.
  2. Syarat-syarat fundamental, Nilai-nilai moral Pancasila menjadi syarat fundamental yang harus dijadikan acuan, dihayati dan diamalkan oleh para calon pemimpin pendidikan di Indonesia.
  3. Syarat-syarat praktis, Memiliki kelebihan dalam pengetahuan dan kemampuan dan memiliki kelebihan dalam kepribadian
  4. Syarat –syarat lainnya
  • Memiliki kecerdasan atau intelegensi yang cukup baik
  • Percaya diri sendiri dan bersifat membership
  • Cakap bergaul dan ramah tamah
  • Kreatif, inisiatif dan memiliki hasrat untuk maju dan berkembang
  • Organisatoris yang berpengaruh dan berwibawa
  • Memiliki keahlian atau ketrampilan dalam bidangnya
  • Suka menolong, memberi petunjuk dan menghukum secara bijaksana
  • Memiliki keseimbangan emosional dan bersifat sabar
  • Memiliki semangat pengabdian dan kesetiaan yang tinggi
  • Berani mengambil keputusan dan tanggung jawab
  • Jjur, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya
  • Bijaksana dan selalu berlaku adil
  • Disiplin
  • Berpengetaguan dan berpandangan luas
  • Sehat jasmani dan rohani

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN

  1. Kepemimpinan Visioner

Visi menggambarkan masa depan yang ideal, barangkali menyiratkan ingatan budaya yang sekarang dan aktivitas, atau barangkali menyiratkan perubahan. Terbentuknya visi dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pendidikan, pengalaman professional, interaksi da komunikasi, penemuan keilmuan serta kegiatan intelektual yang membentuk pola piker tertentu (Gaffar, 1994 : 56).

Kepemimpinan yang relevan dengan tuntutan “school based management”. Kepemimpinan ini yang difokuskan pada rekayasa masa depan yang penuh tantangan, menjadi agen perubahan (agen of change) yang unggul dan menjadi penentu arah organisasi yang tahu prioritas, menjadi pelatih yang provisional dan menjadi pembimbing anggota lainnya.

Visioner Leadership didasarkan pada tuntutan perubahan zaman yang menuntut dikembangkannya secara intensif peran pendidikan dalam menciptaka sumber daya menusia yang handal.

  1. Kepemimpinan transformasional

Kepemimpinan transformasional dibangun dari dua kata :

Kepemimpinan (leadership), setiap tindakan yang dilakukan oleh eseorang untuk mengkoordinasikan, mengarahkan, dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan. Transformasional (transformational), mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda.

Kepemimpinan Transformasional diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikutnya. Pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memilki visi ke depan dan mampu mengidentifikasikan perubahan lingkungan serta mampu mentransformasikan perubahan tersebut ke dalam organisasi.

 

Sumber :

http://amcreative.wordpress.com/kepemimpinan-pendidikan/

http://yatik-kepemimpinandalampendidikan.blogspot.com/

http://imronfauzi.wordpress.com/category/kepemimpinan-pendidikan/

http://mpi-online.blogspot.com/2013/03/makalah-kepemimpinan-pendidikan.html

MANAJEMEN KELAS

 

Kelas merupakan tempat yang dihuni oleh sekelompok manusia dengan berbagai latar belakang, karakter, kepribadian, tingkah laku, dan emosi yang berbeda beda. Karena itu dalam upaya mengelola diperlukan banyak hal guna mempermudah tugas manajemen itu sendiri.

Demi mewujudkan manajemen kelas di sekolah, lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa yang mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Manajemen kelas di sekolah tidak hanya menyiapkan kondisi kelas dan lingkungan sekolah agar tercipta kenyamanan dan suasana belajar yang efektif. Oleh karena itu, sekolah dan kelas perlu dikelola secara baik, dan menciptakan iklim belajar yang menunjang. Setiap proses belajar mengajar harus direncanakan dan diusahakan oleh guru secara sengaja agar dapat dihindarkan kondisi yang dirugikan, dan mengmbangkan kepada kondisi yang kondusif. Kondisi fisik di sekolah senantiasa nyaman, antara lain ruangan harus diusahakan memenuhi syarat. Ukuran ruangannya harus cukup; memberi keleluasaan bergerak; cahaya dan sirkulasi udara baik dan pengaturan perabot harus tertata rapih agar siswa dapat bergerak bebas.

Manajemen dari kata “ Management “. Diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan. Maksud manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif. Suharsimi Arikunto (1988) suatu usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptakan kondisi belajar yang optimal. Pengertian lain dikemukaan sebagai proses seleksi tindakan yang dilaljukan guru dalam funsinya sebagai penanggung jawab kelas dan seleksi penggunaan alat-alat belajar yang tepat sesuai masalah yang ada dan karakteristik kelas yang dihadapi.

Dapat disimpulkan juga bahwa manajemen kelas adalah segala upaya yang diarahkan untuk menjadikan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis.

Konsep dasar yang perlu dicermati dalam manajemen kelas adalah penempatan individu, kelompok, sekolah, dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Tugas guru seperti mengontrol, mengatur, atau mendisiplinkan peserta didik adalah tindakan yang kurang tepat lagi pada saat ini. Sekarang aktivitas guru yang terpenting adalah memenej, mengorganisir dan mengkoordinasikan segala aktivitas peserta didik menurut tujuan pembelajaran. Mengelola kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis, dan kemampuan bertindak menuju perbaikan susana kelas terhadap aspek-aspek manajemen kelas. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif dan kreatif.

  • Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu :
  1. Masalah Individual :

–          Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).

–          Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan)

–          Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).

–          Helplessness (peragaan ketidakmampuan).

Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok.

  2. Masalah Kelompok :

–          Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.

–          Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya.

–          Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya.

–          “Membombong” anggota kelas yang melanggar norma kelompok.

–          Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.

–          Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru, karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru.

 

  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Manajemen Kelas :

1. Kondisi fisik

a)      Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar

b)      Pengaturan tempat duduk

c)      Ventilasi dan pengaturan cahaya

d)     Pengaturan penyimpanan barang-barang

2. Kondisi sosio-emosional

a)      Tipe kepemimpinan

b)      Sikap guru

c)      Suara guru

d)     Pembinaan hubungan baik (raport)

3. Kondisi organisasional

Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas.

  • Aspek-aspek Manajemen Kelas

Menurut Oemar Mark ada 7 aspek yang melalui fungsi berbeda dalam proses belajar mengajar, tetapi merupakan satu kesatuan bulat, yaitu:

1.      Aspek tujuan instruksional

2.      Aspek materi pelajaran

3.      Aspek metode dan strategi pembelajaran

4.      Aspek ketenagaan

5.      Aspek media instruksional

6.      Aspek penilaian

7.      Aspek penunjang fasilitas.

 

Menurut Lois V. Johnson dan May any mengemukakan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas:

1.      Sifat-sifat kelas

2.      Kekuatan pendorong kekuatan kelas

3.      Memahami situasi kelas

4.      Mendiagnosis situasi kelas

5.      Bertindak selektif

6.      Bertindak kreatif

7.      Untuk memperbaiki kondisi kelas

  • Prinsip – Prinsip Dalam Pengelolaan Kelas

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan. Maka adalah penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsi-prinsip pengelolaan kelas, yang di uraikan berikut ini :

1.      Hangat dan antusias

Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar.guru yang hangat dan akrab engan anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas

2.      Tantangan

Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang

3.      Bervariasi

Penggunaan alat atau media atau alat bantu,gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik mengurangi munculnya gangguan, kevariasian dalam penggunaan apa yang dsi sebut diatas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif.

4.      Keluesan

Keluesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.

5.      Penekanan pada hal-hal yang positif

Pada dasarnya, dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif, dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan Yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar

6.      Penanaman disiplin diri

Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu,guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya iku disiplin berdisiplin dalam segala hal

  • Pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam pengelolaan kelas antara lain :
  1. Pendekatan Kekuasaan : Sikap konsisten dari seorang guru untuk menjadikan norma atau aturan-aturan dalam kelas sebagai acuan untuk menegakkan kedisplinan.
  2. Pendekatan Ancaman : Dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman yang sifatnya mendidik
  3. Pendekatan Kebebasan : Suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja.
  4. Pendekatan Resep : Dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas.
  5. Pendekatan Pengajaran : Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam perencanaan dan pelaksanaannya akan mencegah munculnya masalah tingkah laku murid dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah.
  6. Pendekatan Perubahan : Tingkah Laku Diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik.
  7. Pendekatan Sosio-Emosional : Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas.
  8. Pendekatan Kerja Kelompok : Pendekatan kerja kelompok, dalam pendekatan ini guru menciptakan kondisi – kondisi yang memungkinkan kelompok yang produktif, selain itu guru juga harus dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik.
  9. Pendekatan elektis atau pluralistic : Pendekatan elektis yaitu guru kelas memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapi dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi yang lain mungkin mengkombinasikan ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya.

Tipe kepemimpinan yang otoriter harus diubah menjadi lebih demokratis karena tipe kepemimpinan otoriter menumbuhkan sikap agresif tetapi murid hanya aktif kalau ada guru dan kalau guru yang demokratis maka semua aktivitasnya akan menurun. Tipe kepemimpinan guru yang demokratis lebih mungkin terbinanya sikap persahabatan guru dan murid dengan dasar saling mempercayai. Untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal guru harus menempatkan diri sebagai model, pengembang, perencana, pembimbing dan fasilitator.

  • Fungsi Manajemen Kelas

Manajemen kelas selain memberi makna penting bagi tercipta dan terpeliharanya kondisi kelas yang optimal, manajenen kelas berfungsi :

  1. Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti : membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerjasama dalam menemukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerjasama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, merubah kondisi kelas.
  2. Merencanakan: memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan, dan tindakan sekaligus mengkaji berbagai sumber daya dan metode/teknik yang tepat.
  3. Mengorganisasikan:
  • menentukan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi.
  • merancang dan mengembangkan kelompok kerja yang berisi orang yang mampu membawa organisasi pada tujuan.
  • menugaskan sesorang atau kelompok orang dalam suatu tanggung jawab tugas dan fungsi tertentu.
  • mendelegasikan wewenang kepada individu yang berubungan dengan keleluasaan melaksanakan tugas.

    4. Memimpin: pemimpin harus memiliki sifat kepemimpinan dan kepribadian yang dapat menjadi suri tauladan

    5. Mengendalikan: memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan.

 

Untuk memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas hendaknya guru bersikap seperti yang dikemukakan oleh Djamarah (2006 : 185) yaitu:

(1)   Hangat dan antusias, guru yang hangat dan akrab pada murid akan menunjukkan antusias pada tugasnya,

(2)   Menggunakan kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan kegairahan murid untuk belajar,

(3)   Bervariasi dalam penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru dan murid,

(4)   Guru luwes untuk mengubah strategi mengajarnya,

(5)   Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif dan

(6)   Guru harus disiplin dalam segala hal.

 

 

 

 

Sumber :

http://khaerulhuda.wordpress.com/2012/02/18/manajemen-kelas/

http://pakdhekeong.blogspot.com/2013/05/makalah-manajemen-kelas.html

http://rizukifarevi.blogspot.com/2013/04/makalah-pengelolaan-kelas.html

http://tugascharis.wordpress.com/2013/02/20/manajemen-kelas/

 

“Perkembangan Peserta Didik dan Psikologi Pendidikan”

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      PENGERTIAN PSIKOLOGI

Secara etimologi psikologi berasal dari kata “Psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup dan “logos” yang berarti ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikoligi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

Jika kita mengacu padasalah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kitamengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.

Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dandikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individudalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapatdiartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum ( general phsychology)yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilakuindividu dalam situasi khusus, diantaranya :

–          Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.

–          Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.

–          Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)

–          Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.

–          Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan duniaindustri.

–          Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikanDisamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang,sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks.Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telahmemiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :

–          Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yangterlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.

–          Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studilongitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.

–            Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji prilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu,dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar.

Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal,seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layananBimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang didalamnya membutuhkan psikologi. Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang didalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik administrator, madyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien,maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.

B.     PSIKOLOGI PENDIDIKAN

       a.      Pengertian pendidikan

Beberapa definisi mengenai pendidikan dapat dikemukakan di bawah ini :

M.J. Langeveld (1995) :

  • Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan.
  • Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baliq, dan bertanggung jawab secara susila.
  • Pendidikan adalah usaha mencapai penentuan-diri-susila dan tanggung jawab.

Stella van Petten Henderson

Pendidikan merupakan kombinasai dari pertumbuhan dan perkembangan insani dengan warisan sosial. Kohnstamm dan Gunning (1995) : Pendidikan adalah pembentukan hati nurani. Pendidikan adalah proses pembentukan diri dan penetuan-diri secara etis, sesuai denga hati nurani.

John Dewey (1978)

Aducation is all one with growing; it has no end beyond itself. (pendidikan adalah segala sesuatu bersamaan dengan pertumbuhan; pendidikan sendiri tidak punya tujuan akhir di balik dirinya).

H.H Horne

Dalam pengertian luas, pendidikan merupakan perangkat dengan mana kelompok sosial melanjutkan keberadaannya memperbaharui diri sendiri, dan mempertahankan ideal-idealnya.

Encyclopedia Americana (1978) :

  • Pendidikan merupakan sebarang proses yang dipakai individu untuk memperoleh pengetahuan atau wawasan, atau mengembangkan sikap-sikap ataupun keterampilan-keterampilan.
  • Pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif, sistematis dan intensional dibantu oleh metode dan teknik ilmiah, diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu.

Dari berbagai definisi tersebut di atas dapat kita kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan gejala insani yang fundamental dalam kehidupan manusia untuk mengantarkan anak manusia ke dunia peradaban. Pendidikan juga merupakan bimbingan eksistensial manusiawi dan bimbingan otentik, agar anak belajar mengenali jatidirinya yang unik, bisa bertahan hidup, dan mampu memiliki, melanjutkan-mengembangkan warisan-warisan sosial generasi yang terdahulu.

Menurut Whiterington (1982:10) bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Itu artinya bahwa tindakan-tindakan belajar yang berlangsung secara terus menerus akan menghasilkan pertumbuhan pengetahuan dan perilaku sesuai dengan tingkatan pembelajaran yang dilalui oleh individu sendiri melalui proses belajar-mengajar, karena itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, metode dan pendekatan yang benar dalam proses pendidikan sangat diperlukan.

Dalam buku Drs. Alex Subor, M,Si. mendefinisikan bahwa Psikologi Pendidikan adalah subdisiplin psikologi yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi pendidikan  yang meliputi pula pengertian tentang proses belajar dan mengajar.

       b.      Bahasan Psikologi Pendidikan

Secara garis besar, umumnya batasan pokok bahasan psikologi pendidikan dibatasi atas tiga macam yaitu :

  1. Mengenai belajar, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip dan ciri khas perilaku belajar peserta didik dan sebagainya.
  2. Mengenai proses belajar, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik dan sebagianya.
  3. Mengenai situasi belajar, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.

Sementara menurut Samuel Smith, setidaknya ada 16 topik yang perlu dibahas dalam psikologi pendidikan, yaitu :

  1. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan (The science of educational psychology)
  2. Hereditas atau karakteristik pembawaan sejak lahir (heredity)
  3. Lingkungan yang bersifat fisik (physical structure).
  4. Perkembangan siswa (growth).
  5. Proses-proses tingkah laku (behavior proses).
  6. Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope of learning).
  7.  Faktor-faktor yang memperngaruhi belajar (factors that condition learning)
  8. Hukum-hukum dan teori-teori belajar (laws and theories of learning).
  9. Pengukuran, yakni prinsip-prinsip  dasar dan batasan-batasan pengukuran atau evaluasi. (measurement: basic principles and definitions).
  10. Tranfer belajar, meliputi mata pelajaran (transfer of learning subject matters)
  11.  Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran (practical aspects of measurement).
  12. Ilmu statistic dasar (element of statistics).
  13. Kesehatan rohani (mental hygiene).
  14.  Pendidikan membentuk watak (character education).
  15.  Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah. (Psychology of secondary school subjects).
  16.  Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar (psychology of elementary school).

Dalam proses belajar-mengajar dapat dikatakan bahwa inti permasalahan psikiologis terletak pada anak didik, bukan berarti mengabaikan persoalan psikologi seorang pendidik, namun dalam hal seseorang telah menjadi seorang pendidik maka ia telah melalui proses pendidikan dan kematangan psikologis sebagai suatu kebutuhan dalam mengajar. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”

        c.       Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.

Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.

Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristik individu lainnya. Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.

Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.

Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek:

(1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks;

(2) pengalaman belajar siswa;

(3) hasil belajar (learning outcomes), dan

(4) standarisasi kemampuan siswa.

       d.      Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran

Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.

Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :

  • Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan
  • Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
  • Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
  • Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.

Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.

  • Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
  • Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun

termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.

  • Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
  • Untuk belajar diperlukan insight.
  • Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami.
  • Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.

Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan tujuan lain.

  • Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
  • Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
  • Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar

       e.       Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian

Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.

Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.

Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.
Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.

       f.       Tujuan dan Proses Pendidikan

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberi arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.  Sebagai suatu komponen pendidikan, tujuan pendidikan menduduki posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa seluruh komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan tersebut dianggap menyimpang, tidak fungsional, bahkan salah, sehingga harus dicegah terjadinya. Di sini terlihat bahwa tujuan pendidikan itu bersifat normatif, yaitu mengandung unsur norma yang bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik.

Sehubungan dengan fungsi tujuan yang sangat penting itu, maka suatu keharusan bagi pendidik untuk memahaminya. Kekurangpahaman pendidik terhadap tujuan pendidikan dapat mengakibatkan kesalahpahaman di dalam melaksanakan pendidikan. Gejala demikian oleh Langeveld disebut salah teoritis (Umar Tirtarahardja dan La Sula, 37 : 2000).

Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan mengakibatkan hasil yang tidak optimal.

       g.        Unsur-Unsur Pendidik

Proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu :

  • Subjek yang dibimbing (peserta didik).

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya

  • Orang yang membimbing (pendidik).

Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan yaitu orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, pelatihan, dan masyarakat/ organisasi.

  • Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).

Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanifulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).

  • Tujuan pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak. Tujuan demikian bersifat umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sulit untuk dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, dan waktu tertentu dengan menggunakan alat tertentu.
  • Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).

Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya mengembangkan kebhinekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan.

  • Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).

Alat dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.

  • Tempat peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

Lingkungan pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

  • Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar Kegiatan Proses belajar-mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partissipan, ekspeditor, perencana, suvervisor, motivator, penanya, evaluator dan konselor.

       h.      Tugas Guru

Guru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

Tugas guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.

Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat.

        i.        Peran Seorang Guru

Dalam Proses Belajar Mengajar Sebagaimana telah di ungkapkan diatas, bahwa peran seorang guru sangar signifikan dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:

  • Demonstrator
  • Manajer/pengelola kelas
  • Mediator/fasilitator

Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai:

  • Pengambil insiatif, pengarah dan penilai kegiatan
  • Ahli dalam bidang mata pelajaran
  • Penegak disiplin
  • Pelaksana administrasi pendidikan
  • Sebagai Pribadi

Sebagai dirinya sendiri guru harus berperan sebagai:

  • Petugas sosial
  • Pelajar dan ilmuwan
  • Orang tua
  • Teladan
  • Pengaman

Secara Psikologis peran guru adalah:

  • Ahli psikologi pendidikan
  • Relationship
  • Catalytic/pembaharu
  • Ahli psikologi perkembangan.

 

         j.        Peran Pendidik dalam Dunia Pendidikan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat 5 bahwa tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan menurut ayat 6 Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Proses belajar/mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti, setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi dan sampai sejauh mana kita mengubah lingkungan, presentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung (Lozanov, 1978). Dalam hal ini pengaruh dari peran seorang pendidik sangat besar sekali. Di mana keyakinan seorang pendidik atau pengajar akan potensi manusia dan kemampuan semua peserta didik untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan.

Aspek-aspek teladan mental pendidik atau pengajar berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran peserta didik yang diciptakan pengajar. Pengajar harus mampu memahami bahwa perasaan dan sikap peserta didik akan terlihat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya. (Bobbi DePorter : 2001) Proses pendidikan merupakan totalitas ada bersama pendidik bersama-sama dengan anak didik; juga berwujud totalitas pengarahan menuju ke tujuan pendidikan tertentu, disamping orde normatif guna mengukur kebaikan dan kemanfaatan produk perbuatan mendidik itu sendiri. Maka perbuatan mendidik dan membentuk manusia muda itu amat sukar, tidak boleh dilakukan dengan sembrono atau sambil lalu, tetapi benar-benar harus dilandasi rasa tanggung jawab tinggi dan upaya penuh kearifan.

Barang siapa tidak memperhatikan unsur tanggung jawab moril serta pertimbangan rasional, dan perbuatan mendidiknya dilakukan tanpa refleksi yang arif, berlangsung serampangan asal berbuat saja, dan tidak disadari benar, maka pendidik yang melakukan perbuatan sedemikian adalah orang lalai, tipis moralnya, dan bisa berbahaya secara sosial. Karena itu konsepsi pendidikan yang ditentukan oleh akal budi manusia itu sifatnya juga harus etis. Tanpa pertanggungjawaban etis ini perbuatan tersebut akan membuahkan kesewenang-wenangan terhadap anak-didiknya.

Peran seorang pengajar atau pendidik selain mentransformasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada anak didik juga bertugas melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 20 Pasal 39 ayat 2.  Di samping itu merupakan suatu keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab, bahwa di dalam melaksanakan tugasnya harus berbuat dalam cara yang sesuai dengan keadaan peserta didik Di mana selain peran yang telah disebutkan di atas, hal yang perlu dan penting dimiliki oleh pendidik yaitu pendidik harus mengetahui psikologis mengenai peserta didik. Dalam proses pendidikan persoalan psikologis yang relevan pada hakikatnya inti persoalan psikologis terletak pada peserta didik, sebab pendidikan adalah perlakuan pendidik terhadap peserta didik dan secara psikologis perlakuan pendidik tersebut harus selaras mungkin dengan keadaan peserta didik. (Sumardi Suryabrata : 2004)

       k.      Peran Pendidik dalam Proses Belajar-Mengajar

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Karena Proses belajar-mengajar mengandung serangkaian perbuatan pendidik/guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar-mengajar ini memiliki arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan menanamkan sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.

Peran guru dalam proses belajar-mengajar , guru tidak hanya tampil lagi sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya yang menonjol selama ini, melainkan beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor) dan manager belajar (learning manager). Hal ini sudah sesuai dengan fungsi dari peran guru masa depan. Di mana sebagai pelatih, seorang guru akan berperan mendorong siswanya untuk menguasai alat belajar, memotivasi siswa untuk bekerja keras dan mencapai prestasi setinggi-tingginya. Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran, masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun.

Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem, nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan Iain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini guru dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya. Namun harus diakui bahwa sebagai akibat dari laju pertumbuhan penduduk yang cepat (di Indonesia 2,0% atau sekitar tiga setengah juta lahir manusia baru dalam satu tahun) dan kemajuan teknologi di lain pihak, di berbagai negara maju bahkan juga di Indonesia, usaha ke arah peningkatan pendidikan terutama menyangkut aspek kuantitas berpaling kepada ilmu dan teknologi. Misalnya pengajaran melalui radio, pengajaran melalui televisi, sistem belajar jarak jauh melalui sistem modul, mesin mengajar/ komputer, atau bahkan pembelajaran yang menggunak system E-learning (electronic learning) yaitu pembelajaran baik secara formal maupun informal yang dilakukan melalui media elektronik, seperti internet, CD-ROM, video tape, DVD, TV, handphone, PDA, dan lain-lain (Lende, 2004). Akan tetapi, e-learning pembelajaran yang lebih dominan menggunakan internet (berbasis web).

Sungguhpun demikian guru masih tetap diperlukan. Sebagai contoh dalam pengajaran modul, peranan guru sebagai pembimbing belajar justru sangat dipentingkan. Dalam pengajaran melalui radio, guru masih diperlukan terutama dalam menyusun dan mengembangkan disain pengajaran. Demikian halnya dalam pengajaran melalui televisi.  Dengan demikian dalam sistem pengajaran mana pun, guru selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan, hanya peran yang dimainkannya akan berbeda sesuai dengan tuntutan sistem ter¬sebut. Dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah.

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ? Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :

  • Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
  • Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
  • Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
  • Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
  • Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
  • Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”

         l.        Perubahan Prilaku

Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :

1. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).

Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.

2. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).

Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.

3. Perubahan yang fungsional.

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.’

4. Perubahan yang bersifat positif.

Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.

5. Perubahan yang bersifat aktif.

Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.

6. Perubahan yang bersifat pemanen.

Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.

7. Perubahan yang bertujuan dan terarah.

Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

8. Perubahan perilaku secara keseluruhan.

Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap danketerampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.

Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :

  • Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
  • Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
  • Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapanintelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
  • Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
  • Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :

  • Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
  • Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.
  • Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang benar.
  • Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat.
  • Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why).
  • Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
  • Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu.
  • Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.
    Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya.

       m.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Belajar

Secara umum factor-faktor yag mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu factor internal dan factor eksternal . kedua factor tersebut saling memengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.

1)      Faktor internal

Faktor internal adalah factor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Factor-faktor internal ini meliputi factor fisiologis dan factor psikologis.

Faktor fisiologis

Faktor-faktor fisiologis adalah factor-factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Factor-factor ini dibedakan menjadi dua macam.

  • keadaan tonus jasmani

Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar , maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.

Cara untuk menjaga kesehatan jasmani antara lain adalah :

a)    menjaga pola makan yang sehat dengan memerhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuh, karena  kekurangan gizi atau nutrisi akan mengakibatkan tubuh cepat lelah, lesu, dan mengantuk, sehingga tidak ada gairah untuk belajar,

b)   rajin berolah raga agar tubuh selalu bugar dan sehat;

c)    istirahat yang cukup dan sehat.

  • keadaan fungsi jasmani/fisiologis.

Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. Panca indra yang berfunsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula . dalam proses belajar , merupakan pintu  masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Sehinga manusia dapat menangkap dunia luar. Panca indra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh lkarena itu, baik guru maupun siswwa perlu menjaga panca indra dengan baik, baik secara preventif maupun secara yang bersifat kuratif. Dengan menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan kesehatan fungsi mata dan telinga secara periodic, mengonsumsi makanan yang bergizi , dan lain sebagainya.

Factor psikologis

Factor–faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa factor psikologis yang utama memngaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motifasi , minat, sikap dan bakat.

  • kecerdasan /intelegensia siswa

Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemmpuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsaganan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari hamper seluruh aktivitas manusia.

Para ahli membagi tingkatan IQ bermacam-macam, salah satunya adalah penggolongan tingkat IQ berdasarkan tes Stanford-Biner yang telah direvisi oleh Terman dan Merill sebagai berikut ((Fudyartanto  2002).

Distribusi Kecerdasan IQ menurut Stanford Revision

Tingkat kecerdasan (IQ) Klasifikasi
140 – 169 Amat superior
120 – 139 Superior
110 – 119 Rata-rata tinggi
90 – 109 Rata-rata
80 – 89 Rata-rata rendah
70 – 79 Batas lemah mental
20 — 69 Lemah mental

Dari table tersebut, dapat diketahui ada 7 penggolongan tingkat kecerdasan manusia, yaitu:

  1. Kelompok kecerdasan amat superior (very superior) merentang antara IQ 140—IQ 169;
  2. Kelompok kecerdasan superior merenytang anatara IQ 120—IQ 139;
  3. Kelompok rata-rata tinggi (high average) menrentang anatara IQ 110—IQ 119;
  4. Kelompok rata-rata (average) merentang antara IQ 90—IQ 109;
  5. Kelompok rata-rata rendah (low average) merentang antara IQ 80—IQ 89;
  6. Kelompok batas lemah mental (borderline defective) berada pada IQ 70—IQ 79;
  7. Kelompok kecerdasan lemah mental (mentally defective) berada pada IQ 20—IQ 69, yang termasuk dalam kecerdasan tingkat ini antara lain debil, imbisil, idiot.

Pemahaman tentang tingkat kecerdasan individu dapat diperoleh oleh orang tua dan guru atau pihak-pihak yang berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang mana, amat superior, superior, rata-rata, atau mungkin malah lemah mental. Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berharga untuk memprediksi kamampuan belajar seseorang. Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu megarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.

  • Motivasi

Motivasi adalah salah satu factor yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang.

Dari sudut sumbernya motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Motaivasi intrinsic adalah semua factor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktifitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah mejadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi intrinsic memiliki pengaruh yang efektif, karena motivasi intrinsic relaatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar(ekstrinsik).

Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsic untuk belajar anatara lain adalah:

a.     Dorongan ingin tahu dan ingin menyelisiki dunia yang lebih luas;

b.     Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;

c.     Adanaya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orang tua, saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebaginya.

d.     Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.

Motivasi ekstrinsik adalah factor yang dating dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untauk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua, danlain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungansecara positif akan memengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah.

  • Minat

Secara sederhana,minaat (interest) nerrti kecemnderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang popular dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai factor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, moativasi, dan kebutuhan.

Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dihadapainya atau dipelajaranya.

Untuk membagkitkan minat belajar tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Anatara lain, pertama, dengan mebuat materi yang akan dipelajarai semenarik mingkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku materi, desai pembelajaran yang membebaskan siswa mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang  studi. Dalam hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh siswa sesuai dengan minatnya.

  • Sikap

Dalam proses belajar, sikap individu dapat memengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dangan cara yang relative tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebaginya, baik secara positif maupun negative (Syah, 2003).

Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negative dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang professional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas,seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi siswanya; berusaha mengambangkan kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk menyajikan pelajaranyang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkansiswa bahwa bidang studi yang dipelajara bermanfaat bagi ddiri siswa.

  • Bakat

Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan dating (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimilki seorang siswa untauk belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satukomponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.

Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap informasiyang berhungan dengan bakat yang dimilkinya. Misalnya, siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.

Karena belajar jug dipengaruhi oleh potensi yang dimilki setiap individu,maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimilki oleh anaknya atau peserta didiknya, anatara lain dengan mendukung,ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.

2)      Factor-faktor eksogen/eksternal

Selain karakteristik siswa atau factor-faktor endogen, factor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktaor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan factor lingkungan nonsosial.

Lingkungan social

a)      Lingkungan social sekolah, seperti ggggggguru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar.

b)      Lingkungan social massyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.

c)      Lingkungan social keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.

Lingkungan non social. 

a)      Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dantenang. Lingkungan alamiah tersebut mmerupakan factor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terlambat.

b)      Factor instrumental,yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.

c)      Factor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Factor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga denganmetode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.

C.    PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Psikologi perkembangan dirumuskan sebagai ilmu yang membahas tingkah laku manusia yang sedang dalam taraf perkembangan yang sangat pesat. Psikologi perkembangan memusatkan pembahasan terhadap perubahan-perubahan tingkah laku, dalam rangka pembentukan manusia yang lebih matang

 Berdasarkan pendapat beberapa ahli, psikologi perkembangan itu dapat diartikan sebagai

  1. “… That branch of psychology which studies processes of pra and post natal growth and the maturation of behavior” artinya psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologis yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku. (J.P.Chaplin, 1979)
  2. Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati. (Ross Vasta, dkk 1992)

Kedua pendapat diatas menunjukan bahwa psikologi perkembangan merupakan salah satu bidang psikologi yang memfokuskan kajian atau pembahasannya mengenai perubahan tingkah laku dan proses perkembangan dari masa konsepsi (pra-natal) sampai mati.

a. Pengertian Perkembangan

Para ahli psikologi setuju dengan pengertian perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang mengarah pada kemajuan. Perkembangan menyebabkan tercapainya kemampuan dan sifat-sifat psikis yang baru. Perubahan yang dimaksudkan sebagai pencapaian sifat-sifat psikis yang baru, tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada struktur biologis, meskipun tidak semua perubahan-perubahan kemampuan dan sifat-sifat psikis dipengaruhi oleh perubahan struktur biologis.  Atau dengan kata lain Perkembangan dapat dikatakan sebagai proses perubahan  fungsi-fungsi psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis, ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam kurun waktu tertentu menuju kedewasaan. Perkembangan dapat diartikan pula sebagai proses transmisi dari konstitusi psiko-fisik yang herediter, dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan yang menguntungkan.

Perkembangan  menunjukan suatu proses tertentu, yaitu suatu proses yang menuju kedepan dan tidak dapat di ulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat di ulangi. Perkembangan menunjukan pada perubahan-perubahan dalam suatu arah yang bersifat tetap dan maju.

Perubahan struktur biologis yang berkaitan dengan perkembangan psikis adalah pertumbuhan dan kematangan. pertumbuhan menunjukan perubahan kuantitaf, Nampak dalam perubahan ukuran dan struktur tubuh. Perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan dan belajar. Perkembangan menghasilkan bentuk bentuk dan cirri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ketahap yang lebih tinggi.

b.      Prinsip-prinsip perkembangan

 

  • Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti

Manusia secara terus menerus berkembang atau berubah, yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya.

  • Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi

Setiap aspek individu baik fisik, emosi, intelegensi maupun social, satu sama lainnya saling mempengaruhi. Terdapat hubungan atau korelasi yang positif diantara aspek tersebut.

  • Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu

Setiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.

  • Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan

Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangannya terjadi pada waktu yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat)

bergaul dengan orang lain)

  • Setiap individu yang normal mengalami tahapan/fase perkembangan

Dalam mengadapi hidup yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase perkembangan: bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa dan masa tua.

  • Pertumbuhan sebagai proses “menjadi”

Setiap organisme selalu mempunyai prinsip selalu berproses untuk “menjadi”. Dengan kemauannya anak mampu melakukan seleksi atau pilihan, juga mampu melati fungsi-fungsinya dengan satu kebebasan. Dan kemudian di hari anak berusaha menjadi pribadi menurut konsep, cita-cita, dan keinginan sendiri.

  • Paduan antara dorongan-dorongan mempertahankan diri dan pengembangan diri

Pada setiap orang terdapat dorongan fisik dan psikis untuk mempertahankan diri dan mempertahankan hidupnya. Berkat dorongan mempertahankan diri seseorang akan menyimpan segala pengalaman yang berguna.selanjutnya oleh pengalaman-pengalaman tersebut orang itu akan semakin menjadi pandai dan matang.

  • Idividualitas anak dan perbedaan individual

Sejak saat kelahiran, bayi sudah menampakan cirri-ciri dan tingkah laku karakteristik yang individual. Setiap bayi yang satu dengan yang lain sudah memiliki perbedaan karakteristik, ada yang lebih sigap-kokoh, lebih aktif, sepat lapar ada yang tidak. Ada bayi-bayi yang sangat peka, mudah terkejut dan takut, suka rewel ada juga yang tidak.karena perbedaan-perbedaan individual yang karakteristik tesebut individu anak merupakan pribadi yang kha dan unik.

  • Anak sebagai makhluk sosial

Seorang anak yang berdiri sendiri dan terpisah secara total dari masyarakat serta pengaruh cultural orang dewasa, tidak mungkin dia menjadi anak normal. Tanpa bantuan orang dewasa/manusia lain dan lingkungan sosialnya anak tidak akan mungkin mencapai taraf kemanusiaan yang seharusnya.

  • Hukum konvergensi

Hukum konvergensinya menyatakan adanya kerjasama antara faktor kodrati dan faktor social. Setiap perkembangan anak, faktor hereditas atau endogen dan faktor lingkungan itu harus bekerja sama. Kedua-duanya saling melibatkan damn mempengaruhi satu sama lain, faktor tersebut memberikan pengaru besar pada proses perkembangan anak.

  • Pemenuhan kebutuhan sebagai sumber dinamis dari aktivitas anak.

Stiap individu anak dan orang dewasa selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan tertentu utntuk mempertahankan hidupnya. Kebutuhan kebutuhan tersebut menuntut untuk dipenuhi sehingga tidak terjadi ketegangan batin, konflik-konflik batin dan frustasi.

  • Penggunaan fungsi-fungsi secara spontan sebagai tanda kemampuan tubuh

Jika kapasitas-kapasitas untuk berbuat, berfikir dan merasakan pada anak sudah matang anak akan didorong oleh impuls-impulsyang kuat untuk menggunakannya. Misalnya jika peralatan untuk menelungkup sudah “matang”, anak secara spontandan otoatis akan berusaha menelungkupkan dirinya, tanpa ada satu rangsangan dari luar dan dia akan berusaha menghindari semua rintangan yang menghambat usaha belajar menelungkupnya.

  • Kematangan dan masa peka

pertumbuhan dan kematangan berlangsung diluar control dan kemauan manusia. Namun, dapat dinyatakan bahwa setiap pengalaman yang positif dapat mengembangkan poribadi anak. Oleh pengalaman tersebut anak menjadi matang dan penghayatan hidupnya akan bertambah luas.

  • Perjuangan sebagai ciri perkembangan

Hidup ini merupakan suatu perjuangan yang tidak kunjung hentinya. Perjuangan tersebut mula-mula untuk mencapai taraf kedewasaan, kemudian untuk mencapai penyempurnaan diri sebagai manusia.

  • Pemulihan diri dan revisi terhadap kebiasaan.

Dalam masa perkembangan anak itu terdapat apa yang disebut sebagai saat-saat kritis, dimana bisa berlangsung titik patah/breaking point. Pada peristiwa ini pengalaman-pengalaman tertentu akan meninggalkan akibat buruk berupa cedera rohaniahyang para pada anak yang sukar dipulihkan. Dalam proses perkembangan anak memiliki kemampuan untuk memikul kemalangan dan derita dan kemampuannya untuk memulihkan diri atau meyembuhkan diri sendiri dari hal-hal tersebut.

  • Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas

Contohnya sampai pada usia dua tahun anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya, menguasai gerak-gerik fisik dan belajar berbicara dan pada usia tiga sampai enam tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia social (belajar

c.       Fase-Fase Perkembangan

Dalam  ilmu jiwa perkembangan kita kenal beberapa pembagian masa hidup anak, yang disebut sebagai fase atau perkembangan. Berikut adalah pembagian fase-fase perkembangan menurut beberapa ahli

(Thornburg, 1984)

Thornburg menyatakan bahwa perkembangan berlangsung secara terus menerus disepanjang kehidupan seseorang, mulai dari masa konsepsi sampai berakhirnya kehidupan orang itu. perkembangan itu berLangsung secara bertahap yang setiap tahap terdiri atas beberapa periode umur. Berikut adalah tahap-tahap perkembangan yang dimaksud:

  • Masa bayi 0 – 2 tahun
  1. Periode dalam kandungan            : mulai dari konsepsi hingga lahir
  2. Periode baru lahir.             : lahir sampai umur 4 atau 6 minggu
  3. Periode bayi                      : umur 4 atau 6 minggu sampai 2 tahun
  • Masa kanak-kanak 2 – 11 tahun
  1. Periode kanak-kanak permulaan, umur 2 -5 tahun
  2. Periode kanak-kanak pertengahan, umur 6 – 8 tahun
  3. Periode kanak-kanak akhir, umur 9 – 11 tahun

Praremaja 9 – 13 tahun

  • Masa remaja 11 -19 tahun
  1. a.      Remaja permulaan, 11 -13 tahun
  2. b.      Remaja pertengahan, 14 – 16 tahun
  3. c.       Remaja akhir, 17 – 19 tahun

Pemuda 19 – 22 tahun

  • Masa dewasa 20 – 81 tahun
  1. Dewasa permulaan, 20 – 29 tahun
  2. Dewasa pertengahan, 30 – 49 tahun\
  3. Dewasa, 50 -65 tahun
  4. Dewasa akhir, 66 – 80 tahun
  5. Tua,  > 81 tahun
  6. Aristoteles (384 – 322 SM)

Aristoteles

Aristoteles menggambarkan individu, sejak anak sampai dewasa itu ke dalam tiga tahapan. Setiap tahapan lamanya tujuh tahun, yaitu:

  • Tahap I          : dari 0 – 7 tahun, masa anak kecil atau masa bermain
  • Tahap II        : dari 7 – 14 tahun, masa anak masa sekolah rendah
  • Tahap III       : dari 14 – 21 tahun, masa remaja/pubertas, masa peralihan dari usia anak menjadi orang dewasa

Kretscmer

Kretscmer mengemukakan bahwa dari lahir sampai dewasa individu melewati empat tahap, yaitu:

  • Tahap I            : 0 – kira-kira 3 tahun;  Fullungs (pengisian) periode I; pada periode ini

anak kelihatan pendek gemuk.

  • Tahap II           : kira-kira 3 tahun – kira-kira 7 tahun;  Streckungs(rentangan) Periode

I, pada periode ini anak kelihatan langsing (memanjang/meninggi)

  • Tahap III         : kira-kira 7 tahun – kira-kira 13 tahun; Fullungs periode II, pada masa

ini anak kelihatan pendek gemuk kembali

  • Tahap IV         : kira-kira 13 tahun – kira-kira 20 tahun; Streckungs periode II, pada

periode ini anak kembali kelihatan langsing

Elizabeth Hurlock

Elizabeth Hurlock mengemukakan pemahaman perkembangan individu, yaitu:

  • Tahap I            : Fase prenatal (sebelum lahir), mulai masa konsepsi sampai proses kelahiran, yaitu sekitar 9 bulan atau 280 hari.
  • Tahap II           : Infancy (Orok), mulai lahir sampai usia 10 tahun 14 hari
  • Tahap III         :  babyhood (bayi), mulai dari 2 minggu sampai usia 2 tahun
  • Tahap IV         : Childhood (kanak-kanak), mulai 2 tahun sampai masa remaja (puber).
  • Tahap V           : Adolesence/puberty, mulai dari usia 11 atau 13 tahun sampai usia 21

tahun

a)      Adolesence, pada umumnya wanita usia 11 – 13 tahun sedangkan pria lebih lambat dari itu;

b)      Early adolescence, pada usia 16 – 17 tahun;

c)      Late adolescence, masa perkembangan yang terakhir sampai masa usia kuliah diperguruan tinggi

d.      Tahap Perkembangan

 

1.      Masa Kanak-kanak

Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat penting. Mengapa? Karena dalam rentang lima masa kanak-kanal (prenatal, masa bayi dan tatih, masa kanak-kanak pertama, masa kanak-kanak kedua, dan masa remaja), priabdi dan sikap seseorang dibentuk. Bila pada masa penting itu seseorang anak ”salah bentuk”, akibatnya bisa fatal. Hal ini kerap dilakukan orang tua, guru, atau orang dewasa karena mereka memiliki pengetahuan yang minim mengenai perkembangan anak.

Untuk mendapatkan wawasan yang jelas mengenai perkembangan anak, orang membagi masa perkembangan dalam beberapa periode. Adapun sebabnya ialah sebagai berikut: pada saat-saat perkembangan tertentu, anak-anak secara umum memperlihatkan ciri-ciri dan tingkah laku karakteristik yang hampir sama. Dalam ilmu jiwa perkembangan kita kenal beberapa pembagian masa-hidup, yang disebut sebagai fase atau perkembangan. Fase perkembangan ini mempunyai ciri-ciri yang relatif sama, berupa kesatuan-kesatuan peristiwa yang bulat.

Anak merupakan pelaku atau author yang bebas merdeka; yaitu leluasa memilih satu pola hidup tertentu, mengarah pada satu tujuan hidup tertentu pula. Namun selanjutnya anak akan memahami, bahwa kebebasannya pada hakekatnya dibatasi (ada limitasinya) oleh faktor-faktor hereditas atau pembawaan kodrati, dan dibatasi pula oleh kondisi-kondisi lingkungan hidupnya.

Menurut orang jerman bahwa hakekat perjuangan hidup anak manusia dan manusia dewasa ialah: “Thomme passe infiniment Thomme” = manusia itu tidak habis-habisnya berusaha mengatasi kemanusiaannya.

Perbedaan fisik serta psikis anak yang didukung pula oleh perbedaan sistem-nilai anak mengakibatkan perbedaan respons/reaksi masing-masing anak terhadap pengaruh lingkungan, usaha bimbingan, dan upaya pendidikan. Tercapainya martabat-manusiawi dan kedewasaan itu tidak berlangsung secara otomatis dengan kekuatan sendiri; akan tetapi senantiasa berkembang dengan bantuan orang dewasa. Perkembangan yang sehat akan berlangsung, jika kombinasi dari fasilitas yang diberikan oleh lingkungan dan potensialitas kodrati anak bisa mendorong berfungsinya segenap kemampuan anak.

unsur dinamisme merupakan ciri pokok pada individu anak yang sehat. Jadi, hidup ini berisikan usaha-usaha yang berkesinambungan dan tidak pernah berhenti, karena organisme manusia dilengkapi dengan impuls-impuls untuk memobilisir segenap potensi agar bisa berfungsi sepenuhnya. Sejak masa bayi, anak senantiasa menunjukkan usaha untuk maju dengan bantuan segenap peralatan fisik dan psikisnya, untuk mencapai kemungkinan-kemungkinan baru yang terletak di depannya. Pada saat itu terlihat adanya selingan di antara cepat dan lambatnya perkembangan, yang kurang lebih tetap konstan sifatnya. Inilah yang disebut sebagai irama perkembangan.

Dalam usaha mempelajari macam-macam kesanggupan baru itu anak dijiwai oleh entusiasme atau kegairahan yang amat besar. Lambat laun, dalam proses pertumbuhannya, suatu peristiwa yang dianggap baru dan mencekam segenap minat serta hatinya, lalu jadi tidak menarik perhatiannya lagi. Sebab ketrampilan baru tadi sudah jadi bagian dari totalitas pola tingkah lakunya, yang kini sudah jadi “otomatis”, bahkan kurang dihayati secara sadar.

Salah satu sukses dalam usah perjuangan seorang ondividu yang matang itu ialah: kemampuan untuk memikul duka derita dalam perjuangannya. Luka lara.
Maka dalam perkembangan anak itu terdapat apa yang disebut sebagai saat-saat kritis, di mana bisa berlangsung titik patah/breaking point. Pada peristiwa sedemikian pengalaman-pengalaman tertentu akan meninggalkan akibat buruk berupa cedera rokhaniah yang parah pada anak, yang sukar dipulihkan.

Suami istri Clara dan William Stern membagi perkembangan bahasa anak yang normal dalam 4 periode perkembangan yaitu:

  1. Masa pertama k.l 12-18 bulan. Stadium kalimat-satu-kata. Satu perkataan dimaksudkan untuk mengungkapkan satu perasaan atau satu keinginan.
  2. Masa kedua: 18-24 bulan. Mengalami stadium-nama. Pada saat ini timbul kesadaran bahwa setiap benda mempunyai nama. Jadi ada kesadaran tentang bahasa.
  3. Masa ketiga: 24-30 bulan. Mengalami stadium-flexi, (flexi, flexico = menafsirkan, mengikrabkan kata-kata).
  4. Masa keempat. Mulai usia 30 bulan keatas, stadium anak kalimat.

Anak-anak yang kidal, apabila ia dipaksakan untuk menggunakan tangan kanannya, bisa mengalami trauma psikis dan menjadi gagap. Waktu bayi itu lahir, dia merupakan “subyek dengan dunianya sendiri” yang melingkupi DIRI sendiri saja. Mengingat perkembangan anak yang amat pesat pada usia sekolah, dan mengingat bahwa lingkungan keluarga sekarang tidak lagi mampu memberikan seluruh fasilitas untuk mengembangkan fungsi-fungsi anak terutama fungsi intelektual dalam mengejar kemajuan zaman modern maka anak memerlukan satu lingkungan sosial yang baru yang lebih luas; berupa sekolahan, untuk mengembangkan semua potensinya.

Dalam perkembangan jiwani anak, pengamatan menduduki tempat yang sangat penting. Beberapa teori mengenai fungsi pengamatan ini dipaparkan oleh Meumann, Stern dan Oswald Kroh. Pengamatan anak selama periode sekolah rendah itu berlangsung sebagai berikut:

–          Dimulai dari pengalamatan kompleks totalitas, menuju pada bagian-bagian/onderdil

–          Berangkat dari sikap pasif menerima, menuju pada sikap pamahaman: aktif, mendekati, dan mencoba mengerti

–          Bertitik tolak dari AKU, menuju kepada obyek-obyek dunia sekitar dan milieunya

–          Dari dunia fantasi menuju ke dunia realitas

Usia 5-11 tahun disebut pula sebagai masa latensi (latensi latens, latere = tersembunyi, belum muncul, masih terikat). Pada periode ini macam-macam potensi dan kemampuan anak masih bersifat “tersimpan”, belum mekar, belum terpakai. Maka akhir masa latensi itu disebut sebagai masa pueral atau pra-pubertas.

2.      Masa Remaja

 

Masa pra-pubertas ini ditandai oleh perkembangannya tenaga fisik yang melimpah-limpah. Keadaan tersebut menyebabkan tingkah laku anak kelihatan kasar, canggung, brandalan, kurang sopan, liar dan lain-lain. Periode percepatan tumbuh dengan bertambahnya berat badan dan panjang tubuh dengan ukuran tidak konstan ini pada umumnya berlangsung pada usia 11-15 tahun pada anak-anak gadis, dan umur 13-18 tahun pada anak-anak laki. Peningkatan aktivitas tersebut bukannya berarti peningkatan agresivitas anak; akan tetapi Semua kegiatan itu dimungkinkan oleh adanya prinsip perkembangan yang aktif –dinamis pada anak.

Anak-anak laki-laki dan anak perempuan yang berkumpul bersama-sama pada usia ini lebih banyak didorong loleh faktor rasa-ingin-tahu (curiousity); dan bukan oleh masalah-masalah seksual. Aktifitas mereka bersifat netral. Bahkan ada kalanya bersifat “ofensif”; yaitu saling mengganggu , saling berolok-olok, bahkan kadang-kadang juga melakukan perkelahian.

Pada usia pubertas tersebut muncul pula aspirasi-aspirasi (peranan, usaha peningkatan), impian-impian hidup, dan cita-cita paling mulia tinggi. Tapi sebaliknya mungkin pula dibarengi timbulnya nafsu-nafsu rendah dan fikiran-fikiran yang paling inferior pada anak puber.

Identifikasi bisa bermanfaat, karena bisa memperkokoh perkembangan AKU dan kepribadian anak, serta memberikan spirit kegairahan. Sedang tanpa identifikasi sama sekali, pribadi menjadi lemah, bisa jadi inferior, dan akan timbul banyak kecemasan serta macam-macam gejala neurotis (neuron = syaraf; neurotis = gangguan pada syaraf). Oleh karena itu proses identifikasi memainkan peranan besar bagi lancar tidaknya relasi anak muda terhadap orang tua, dan komunikasinya dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Proses organis paling penting pada masa pubertas ini ialah: kematangan seksual. Kematangan seksual yang normal berlangsung pada usia k. l. 12 sampai 18 tahun. Namun ada kalanya kematangan seksual ini berlangsung lebih cepat atau lebih lambat dari usia 12-18 tahun. Sebab-musabab percepatan atau kelambatan itu belum dapat diterangka dengan jelas.

Kematangan seksual atau kematangan fungsi jasmaniah yang biologis ini berupa kematangan kelenjar kelamin, yakni testes (buah zakar, kelepir) untuk anak laki-laki, dan ovarium (indung telur) pada anak-anak gadis; beserta membesarnya alat-alat kelamin. Sebelumnya peristiwa tadi didahului oleh tanda-tanda kelamin sekunder. Tanda-tanda kelamin sekunder antara lain berupa: gangguan peredaran darah, jantung sering berdebar-debar, cepat menggigil, mudah capai, kepekaan pada susunan syaraf; juga pertumbuhan rambut pada alat kelamin dan ketiak, tumbuhnya cambang dan kumis pada anak laki-laki, dan perubahan suara. Sedang pada anak-anak gadis berlangsung meluasnya/melebarnya dada, tumbuhnya payudara, penebalan lapisan lemak disekitar pinggul, paha dan perut.

  • Perkembangan Psikologi Remaja

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.Setiap tahap usia manusia pasti ada tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui. Bila seseorang gagal melalui tugas perkembangan pada usia yang sebenarnya maka pada tahap perkembangan berikutnya akan terjadi masalah pada diri seseorang tersebut. Untuk mengenal kepribadian remaja perlu diketahui tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan tersebut antara lain:Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif

Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Ani merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Ani akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Ani yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Ani akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Ani tidak memiliki teman, dan sebagainya.

Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orangtua. Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku “pemberontakan” dan melawan keinginan orangtua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orangtua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar.

Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin. Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya pergaulan.Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap perkembangan ini. Ada sebagaian besar remaja yang tetap tidak berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam tugas perkembangan remaja tersebut.

Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri, Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu saja akan menjadi masalah untuk tugas perkembangan selanjutnya (masa dewasa atau bahkan sampai tua sekalipun).

Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma. Skala nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah “aku” ?, sehingga hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan dalam dirinya.

1. Periode Pueral (Prapubertas, Awal Pubertas)

Sulit untuk menentukan usia berapa dan kapan masa pueral ini dimulai. Ada ahli-ahli yang mengemukakan usia 10 – 12 Tahun, ada yang 12 – 14 tahun. Namun, bias dinyatakan bahwa gejala-gejala prueral itu bias berkelanjutan sampai jauh melampaui masa pubertas.

Anak puer disebut juga sebagai anak besar, yang tidak mau dianggap “kanak-kanak dan kecil” lagi. Namun, belum bias meninggalkan pola kekanak-kanakannya. Sikap hidup anak puer itu realistis dan sadar “nuchter”. Ia belum memperdalam isi kejiwaannya sendiri, tapi lebih menegok ke dunia luar. Mereka kecenderungan untuk melepaskan diri dari identifikasi lama, mulai bersikap kritis terhadap orang tuanya, melebihlebihkan kemampuan sendiri dan berusaha keras untuk berbeda denga orang tuanya.

Kontak relasi anak puer dengan kawan-kawannya asalah sifat yang masih primitive dan masih longgar. Pada masa ini relasi diantara  anak-anak gadis dengan pemuda-pemuda cilik sifatnya masih non-seksual. Anak-anak laki-laki dan anakperempuan yang berkumpul bersama-sama lebih banyak didorong oleh rasa keingintahuan dan bukan oleh masalah-masalah seksual. Aktivitas mereka bersifat netral bahkan ada kalanya bersifat ofensif yaitu saling mengganggu, saling berolok-olok, bahkan kadang-kadang juga melakukan perkelahian. Kejadian sedemikian ini disebabkan oleh timbulnya :

–          Dorongan untuk merealisasi mdiri

–          Dorongan untuk mempertahankan aku-nya

–          Keinginan menjadi dewasa, dan

–          Hasrat berprestasi

2. Masa Pubertas Awal

Masa pubertas awal atau masa pubertas merupakan satu periode yang segera akan dilanjutkan oleh masa adolesensi yang disebut pula sebagai masa pubertas lanjut. Masa pubertas sama halnya denga masa pueral yang tidak dapat dipastikan kapan dimulai dan berakhirnya. Beberapa pendapat  menyatakan bahea masa pubertas dimulai pada usia kurang lebih 14 tahun dan akan berakhir pada usia kurang lebih 17 tahun. Namun pubertas anak gadis pada umumnya berlangsung lebih awal daripada anak laki-laki.

Kepribadian pada anak puber masih banyak terdapat unsur kekanak-kanakan. Namun pada masa puber ini muncul unsur baru, yaitu kesadaran akan kepribadian dan kehidupan batiniah sendiri, sekaligus perkuatan dari rasa aku. Pada usia ini mulai muncul sifat-sifat khas perempuan dan laki-laki, yaitu sifat pasif-menerima pada perempuan dan sifat aktif berbuat pada laki-laki. Oleh karena itu penampakan tingkah laku anak laki-laki kelihatan lebih hebat dan meledak-ledak. Prilaku gadis-gadis puber terlihat lebih terkendali oleh perasaa dan terikat pada tradisi serta peraturan-peraturan keluarga.

Pada masa puber ini mulai timbul minat dan emosi heteroseksual, yaitu tertarik pada lawan jenisnya. Disamping perasaan homoseksual terhadap ayah/ibu dan kawan-kawan sejenis. Namun pada usia puber ini terjalin relasi segitiga atau relasi  triangulaire.

  • Bagi seorang anak gadis:

–       Ada unsur cinta diri (selflove)

–       Ada obyek cinta “homoseksual” dalam wujud pribadi ibu sendiri atau seorang kawan gadis

–       Obyek cinta “heteroseksual” dalam wujud seorang pria/laki-laki

  • Bagi seorang anak laki-laki:

–       Ada unsur cinta diri (selflove)

–       Ada obyek cinta “homoseksual” dalam wujud pribadi ayah sendiri atau seorang kawan laki-laki

–       Obyek cinta “heteroseksual” dalam wujud seorang gadis

Oleh karena itu, relasi anak puber lebih bersifat biseksual, yaitu cinta baik kepada seorang pria maupun wanita.

Pada masa puber keinginan untuk melepaskan diri dari ikatan orang tua semakin kuat sehingga ada kalanya seorang anak bertingkah laku memberontak dan melarikan diri dari rumah. Pada umumnya usaha melarika diri dari rumah disebabkan oleh

  • Kerisaun seksual
  • Kurangnya kemampuan untuk mengontrol dan mengendalikan diri terutama emosi-emosinya.
  • Ketidakstabilan psikis
  • Konflik-konflik intern/batin yang sangat kuat
  • Kebimbangan-kebimbangan karena belum menemukan norma yang mantap

Sehubungan dengan hal diatas, masa pubertas itu biasa disebutkan sebagai “edisi kedua dari masa kanak-kanak”, yang menonjolkan unsur keragu-raguan dalam memilih obyek cintanya.

3. Masa Adolesensi (adolescence, pasca remaja)

Dengan selesainya masa pubertas awal, masuklah anak ke dalam periode kelanjutkannya, yaitu masa pubertas akhir atau pasca remaja/adolesensi.  Masa adolesensi ini oleh Sigmund Freud disebut sebagai “Edisi kedua dari situasi Oedipus”. Sebab relasi anak muda pada usia ini masih mengandung banyak konflik antara isi psikis yang kontrakdiktif, terutama sekali konflik pada relasi anak muda dengan orang tua dan obyek cintanya.

Menurut banyak ahli ilmu jiwa, batas waktu adolesensi itu ialah 17 – 19 tahun atau 17-21 tahun. Perbedaan karakteristik antara tiga fase yaitu pra-pubertas/pueral, pubertas (awal), dan adolesensi atau pubertas akhir itu antara lain ialah sebagai berikut

  1. Pada masa pra-pubertas (masa negative, Verneinung, Trotzalter kedua), anak sering merasakan: bingung, cemas, takut, gelisah, gelap hati, bimbang ragu, risau , sedih, sara minder, melawan rasa “besar-dewasa-super”,dan lain-lain. Anak tidak tahu sebab-sebab dari macam-macam perasaan kontradiktif yang menimbulkan banyak kerisauan hatinya.
  2. Pada masa pubertas, anak muda menginginkan/mendambahkan sesuatu, dan mencari-cari sesuatu. Namun apa sebenarnya “sesuatu” yang diharapkan dan dicari itu, dia sendiri tidak tahu. Anak muda sering merasa sunyi hati, dan menduga ia tidak mengerti orang lain dan tidak dimengerti oleh pihak luar.
  3. Pada masa adolesensi, anak muda mulai merasa mantap, stabil. Dia mulai mengenal aku-nya, dan ingin hidup dengan pola hidup yang digaransikan sendiri, dengan itikad baik dan keberanian. Dia mulai memahami arah hidupnya dan menyadari tujuan hidupnya. Ia mempunyai pendirian tertentu berdasarkan suatu pola hidup yang jelas yang baru ditemukannya.

Pada masa adolesensi anak muda mulai menemukan nilai-nilai hidup dirinya, sehingga makin jelaslah pemahaman tentang keadaan dirinya. Dia mulai berdifat kritis terhadap obyek-obyek diluar dirinya dan ia mampu mengambil sintese antara tanggapan dunia luar dengan dunia intrern.

Dalam perkembangan anak pada masa adolesensi dihadapkan pada banyak masalah baru dan kesulitan yang kompleks. Antara lain berupa:

  1. Anak muda belajar berdiri sendiri dalam suasana kebebasan
  2. Beruasaha melepaskan ikatan-ikatan efektif lama dengan orang tua dan obyek-obyek cintanya
  3. Berusaha membangun relasi-relasi perasaan yang baru

Emosi anak adolesens  lebih terarah kedalam, pada kehidupan batiniah sendiri dan narsistis adalah sifat cinta diri yang mementingkan diri sendirinya sendiri yang sudah dimiliki pada masa ini. Tugas utama anak adolesens ialah mengatasai benturan-benturan batin dengan tabah dan menciptakan harmoni diantara dua duinia yang bertentangan.

Wiliam kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut:

a)      Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.

b)      Mencapai kemandirian emosional dari orang tuaatau figure-figur yang mempunyai otoritas

c)      Mengembangkan keterampilan komukikasi interpersonaldan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok

d)     Menemukan manusia model yang dijadiakan identitasnya

e)      Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuan sendiri

f)       Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai , prinsip-prinsi atau falsafah hidup (Weltanschauung)

g)      Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kekanak-kanakan.

Selain tugas-tugas perkembangan, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:

–          Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat

–          Emosinya tidak stabil

–          Perkembangan Seksual sangat menonjol

–          Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)

–          Terikat erat dengan kelompoknya

3.        Masa Dewasa (Kedewasaan)

Tujuan perkembangan ialah menjadi manusia dewasa yang sanggup bertanggung jawab sendiri dan berdiri sendiri/mandiri. Setelah masa adolesensi sampailah pada masa kedewasaan, dimana dia diharapkan bias mendidik diri sendiri. Dalam pengertian:

–          Mampu menentukan sikap

–          Bias memilih arah dan tujuan hidupnya

–          Secara kosekuen mencapai tujuan hidupnya

Setiap kedudayaan dapat membuat perbedaan usia seseorang dapat dikatakan dewasa secara resmi, yang pada umumnya didasarkan pada perubahan-perubahan fisik dan psikologis tertentu. Dalam hal ini Elisabet Hurlock (1996)  membagi masa dewasa menjadi tiga periode, yaitu

  • Masa dewasa awal (usia 18 – 40 tahun)
  • Masa dewasa madya (usia 40 – 60 tahun)
  • Masa dewasa akhir (usia 60 keatas hingga meninggal)

a)      Masa Dewasa Awal

Masa dewasa awal menurut Elisabeth Hurlock, dimulai dari 18 tahun sampai kira-kira 40 tahun. Saat perubahan-perubahan fisik dan psikologi yang menyertai berkurangnya kemampuan repruduktif. Definisi masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial baru.

1)      Ciri-ciri masa dewasa awal menurut Hurlock

–          masa pengaturan

–          masa reproduktif

–          masa bermasalah

–          masa ketegangan emosional

–          masa keterasingan sosial

–          masa komitmen

–          masa ketergantungan

–          masa perubahan nilai

–          masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru

–          masa kreatif

2)      Tugas perkembangan masa dewasa awal menurut Havighurst  (1983)

–          memiliki teman bergaul (sebagai calon suami atau istri)

–          belajar hidup bersama dengan suami atau istri

–          mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga

–          dituntut adanya kesamaan cara serta sepaham di dalam keluarga

–          mengelola rumah tangga

–          mulai bekerja dalam suatu jabatan

–          mulai bertanggung jawab sebagai warga Negara secara layak

–          memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai atau pahamnya.

b)      Masa Dewasa Madya

Pada umumnya masa dewasa madya (usia madya) atau masa setengah baya dipandang sebagai masa usia antara 40 – 60 tahun. Masa tersbut pada akhirnya akan ditandai oleh perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan fisik, sering [ula diikiti oleh penurunan daya ingat.

Masa dewasa madya merupakan masa transisi dimana pria dan wanita mulai meninggalkan cirri-ciri jasmani san plrilaku masa dewasanya. Tahun-tahun ini merupakan masa puncak dimana kondisi kesejahteraan psikologis, kesehatan, produktivitas dan keterlibatan dalam masyarakat sangat optimal.

1)      Ciri-ciri masa dewasa madya

–          ketakutan akan memasuki masa ini

–          masa transisi

–          masa stress

–          masa yang berbahaya

–          masa canggung

–          masa berprestasi

–          masa evalusi

–          masa sepi

2)      Tugas-tugas perkembangan masa usia madya

–          menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis

–          menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu

–          mambantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia

–          mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan

–          mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa

–          mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh

c)      Masa Dewasa Akhir

Pada masa dewasa akhir ini kemampuan kognitif, seperti memori, kreativitas, intelegensi dan kemampuan belajar pada umumnya mulai mengalami penurunan. Terkadang mereka kurang mampu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya.

d)     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Masa Dewasa

 

1)      Kekuatan fisik

2)      Kemampuan motorik

3)      Kemampuan mental

4)      Motivasi untuk berkembang

5)      Model peran

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Anak didik adalah objek sasaran dalam proses belajar mengajar sebagai manusia individu yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain, maka dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik perlu memperhatikan faktor psikologi karena pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui belajar mengajar, tidak dapat dipisahkan dari psikologi.

Psikologi Pendidikan dan Psikologi Perkembangan mempelajari perubahan-perubahan fisik maupun tingkah laku individu dalam lingkungan masyarakat, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun situasi pendidikan  yang meliputi pula pengertian tentang proses belajar dan mengajar yang dapat membantu individu berkembang untuk menjadi manusia dewasa yang sanggup bertanggung jawab sendiri dan berdiri sendiri/mandiri.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh. Psikologi Perkembangan. Edisi revisi, Cetakan II. Jakarta,  2005.

Ali, Mohammad dan Mohammad asroro.2004. PSIKOLOGI REMAJA Perkembangan Peserta didik. Jakarta: PT Bumi Aksara

Desmita. Psikologi Perkembangan. Cetakan pertama. Badung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.

Kartono, kartini. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung:Mandar Maju, 2007.

Prayitno, elida. Psikologi perkembangan.jakarta:Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 1991.

Yusuf LN, H. Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.

http://hutabalian72.wordpress.com/2010/02/02/peranan-psikologi-pendidikan-dalam-proses-belajar-mengajar/

http://makalahpascasarjana.blogspot.com/2010/06/kontribusi-psikologi-pendidikan.html

http://www.scribd.com/doc/10858411/Psikologi-Pendidikan

http://www.slideshare.net/dewiratnasari18/psikologi-belajar-mengajar-3592520

http://www.slideshare.net/dewiratnasari18/psikologi-belajar-mengajar-3592520

http://daninurriyadi.blogspot.com/2010/03/peranan-keluarga-terhadap-perkembangan.html

http://www.scribd.com/doc/59494772/p-2-Teori-Dan-Peranan-Psikologi-Pendidikan

http://ekosuprapto.wordpress.com/2009/04/18/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses-belajar/

http://fayruzzhalielah.blogspot.com/2010/11/psikologi-perkembangan-anak.html

http://carwandidu.blogspot.com/2012/02/konstribusi-psikologi-perkembangan.html

http://www.psycholovegy.com/2012/03/psikologi-perkembangan-masa-dewasa.html

http://blogmhs.uki.ac.id/luciana/dev-psy/perkembangan-psikologi-remaja/